MAUMERE – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak cepat memimpin upaya normalisasi jaringan telekomunikasi yang lumpuh total di sejumlah wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Langkah strategis ini menyusul bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Fokus utama otoritas saat ini tertuju pada pemulihan 200 Base Transceiver Station (BTS) yang mengalami gangguan operasional serius akibat kerusakan infrastruktur fisik dan pemutusan aliran listrik.
Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Komdigi mengonfirmasi bahwa mereka terus menjalin koordinasi intensif dengan tiga operator seluler terbesar di Indonesia. Ketiga operator tersebut melaporkan adanya kendala teknis yang signifikan, mulai dari menara yang miring hingga putusnya kabel serat optik di bawah laut dan daratan. Komdigi menargetkan pemulihan konektivitas dasar selesai dalam waktu kurang dari 48 jam guna mendukung kelancaran jalur komunikasi tim evakuasi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Detail Penanganan Infrastruktur Telekomunikasi
Tim lapangan saat ini menghadapi tantangan berat karena akses transportasi ke lokasi BTS tertentu terputus akibat tanah longsor. Meskipun demikian, operator seluler mulai mengaktifkan skema mitigasi darurat untuk menjamin masyarakat tetap bisa mengakses layanan pesan singkat dan panggilan suara. Berikut adalah beberapa langkah teknis yang sedang berjalan di lapangan:
- Mobilisasi tim teknis gabungan untuk memeriksa integritas fisik menara BTS di zona merah gempa.
- Penggunaan genset darurat pada titik-titik BTS krusial yang kehilangan pasokan listrik dari PLN.
- Penyediaan akses komunikasi berbasis satelit (VSAT) di posko pengungsian utama sebagai jalur komunikasi alternatif.
- Optimasi sinyal dari menara BTS terdekat yang tidak terdampak untuk menjangkau area blank spot sementara.
Analisis Resiliensi Infrastruktur Digital di Wilayah Rawan Bencana
Gempa M7,7 di NTT ini menjadi pengingat keras mengenai pentingnya penguatan resiliensi infrastruktur digital nasional. Analisis jurnalisme data menunjukkan bahwa wilayah Indonesia Timur memerlukan standarisasi bangunan BTS yang mampu menahan guncangan di atas magnitudo 8,0. Selain itu, diversifikasi jalur kabel serat optik menjadi kunci agar ketika satu jalur putus, trafik data dapat dialihkan secara otomatis ke jalur cadangan.
Kondisi ini sangat kontras dengan upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital yang merata. Tanpa infrastruktur yang tahan bencana, seluruh ekosistem ekonomi digital di daerah bisa runtuh seketika saat bencana melanda. Komdigi berencana mengevaluasi total penempatan BTS di wilayah pesisir Flores untuk meminimalisir dampak tsunami yang sering menyertai gempa tektonik besar di wilayah tersebut.
Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan layanan publik. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi gempa susulan. Dalam laporan sebelumnya mengenai mitigasi bencana telekomunikasi, pengamat infrastruktur menekankan bahwa sinergi antar operator seluler adalah harga mati dalam situasi darurat nasional seperti ini.
Langkah Antisipasi Masyarakat Selama Gangguan Jaringan
Selama proses pemulihan berlangsung, Komdigi menyarankan masyarakat di Flores untuk menghemat penggunaan baterai perangkat komunikasi. Penggunaan data internet yang intensif dapat mempercepat pengosongan daya pada BTS yang hanya bergantung pada baterai cadangan. Pastikan untuk memprioritaskan komunikasi hanya untuk hal-hal yang bersifat darurat dan krusial.
Kementerian Komunikasi dan Digital berjanji akan memberikan pembaruan informasi setiap 6 jam terkait persentase BTS yang kembali online. Transparansi ini diharapkan mampu meredam kepanikan warga dan membantu keluarga di luar NTT untuk mendapatkan kabar dari kerabat mereka di lokasi bencana.

