BEIJING – Ribuan video pendek yang menampilkan pidato dan kutipan Mao Zedong kini mendominasi platform media sosial di China, seperti Douyin dan Bilibili. Meskipun sang pendiri Republik Rakyat China tersebut telah wafat hampir setengah abad yang lalu, sosoknya justru menemukan relevansi baru di tangan generasi Z. Jutaan penayangan dan puluhan ribu komentar bernada pujian seperti “hidup manusia besar” menunjukkan pergeseran budaya yang signifikan di kalangan anak muda yang lahir di era digital.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia sejarah biasa, melainkan cerminan dari kegelisahan sosial yang mendalam. Para pemuda China saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang berat, mulai dari biaya hunian yang tidak terjangkau hingga persaingan kerja yang mencekik. Kondisi ini mendorong mereka untuk mencari pelarian atau jawaban dalam ideologi masa lalu yang menekankan kesetaraan dan perlawanan terhadap eksploitasi kelas.
Alasan di Balik Kebangkitan Nostalgia Maoisme
Generasi Z di China memandang Mao Zedong sebagai simbol perlawanan terhadap kapitalisme yang tidak terkendali. Mereka merasa bahwa janji kemakmuran ekonomi saat ini hanya menguntungkan segelintir elite, sementara kelas pekerja terjebak dalam siklus kemiskinan modern. Berikut adalah beberapa faktor utama yang memicu popularitas Mao di mata anak muda:
- Kekecewaan terhadap Budaya Kerja 996: Sistem kerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam selama 6 hari seminggu membuat kaum muda merasa terasing dan tertekan.
- Kesenjangan Ekonomi yang Melebar: Retorika Mao mengenai perjuangan kelas memberikan bahasa bagi para pemuda untuk mengkritik para konglomerat teknologi yang mereka anggap sebagai lintah darat modern.
- Pencarian Identitas Kolektif: Di tengah individualisme yang ekstrem, ajaran Mao menawarkan rasa kebersamaan dan tujuan nasionalisme yang kuat.
- Ketersediaan Konten Digital: Algoritma media sosial mempercepat penyebaran kutipan-kutipan Mao yang telah melalui proses kurasi sehingga tampak keren dan relevan bagi audiens muda.
Kritik Terhadap Kondisi Ekonomi dan Sosial Modern
Analis sosiologi melihat bahwa pemujaan terhadap Mao merupakan bentuk protes pasif terhadap realitas pasar saat ini. Banyak pemuda merasa bahwa kerja keras tidak lagi menjamin kehidupan yang layak. Dalam diskusi daring, mereka sering membandingkan penderitaan buruh pabrik era revolusi dengan beban kerja administratif yang mereka jalani sekarang. Mereka menganggap kutipan-kutipan Mao sebagai senjata intelektual untuk mempertanyakan kebijakan ekonomi yang condong pada pasar bebas.
Pemerintah China sendiri menanggapi fenomena ini dengan sikap hati-hati. Di satu sisi, popularitas Mao memperkuat legitimasi Partai Komunis China. Namun di sisi lain, jika semangat revolusioner ini berubah menjadi aksi protes nyata terhadap kebijakan pemerintah atau perusahaan besar, hal tersebut bisa menjadi ancaman bagi stabilitas nasional. Fenomena ini mengingatkan kita pada artikel sebelumnya mengenai tren ekonomi China yang mulai bergeser ke arah konsolidasi kekuasaan negara.
Sebagai tambahan, para ahli sejarah mengingatkan bahwa anak muda cenderung melakukan glorifikasi yang berlebihan tanpa memahami sisi kelam dari era kepemimpinan Mao. Mereka sering kali mengabaikan dampak tragis dari kebijakan seperti Lompatan Jauh ke Depan atau Revolusi Kebudayaan. Ketertarikan Gen Z ini lebih bersifat simbolis daripada pemahaman mendalam tentang sejarah politik yang kompleks.
Dampak Jangka Panjang bagi Stabilitas Global
Jika tren ini terus berlanjut, orientasi politik generasi masa depan China mungkin akan semakin menjauh dari nilai-nilai liberal Barat. Kecenderungan untuk kembali ke akar sosialis yang militan dapat mempengaruhi bagaimana China berinteraksi dengan dunia internasional, terutama dalam hal perdagangan dan diplomasi. Kita melihat adanya potensi ketegangan baru jika generasi baru pemimpin China mengadopsi retorika anti-kapitalis yang lebih keras di panggung global.
Fenomena ini menegaskan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu momen yang tepat untuk bangkit kembali dalam bentuk yang berbeda. Bagi Gen Z China, Mao Zedong bukan sekadar tokoh dari buku teks, melainkan ikon pemberontakan di tengah dunia yang mereka anggap tidak adil.

