KYIV – Militer Rusia terus meningkatkan intensitas serangan yang menyasar simbol-simbol identitas budaya Ukraina, termasuk pasar buku bersejarah di pusat kota Kyiv. Laporan mendalam dari jurnalis senior Kim Barker mengungkap kerusakan masif di pasar buku legendaris yang kini menyisakan tumpukan kertas hangus dan abu. Penghancuran ini bukan sekadar efek samping dari operasi militer, melainkan bagian dari pola sistematis yang mengancam keberadaan literatur nasional Ukraina selama beberapa bulan terakhir.
Pasukan udara Rusia meluncurkan rudal yang menghantam jantung aktivitas literasi masyarakat Kyiv. Ledakan tersebut memicu kebakaran hebat yang melalap habis kios-kios kayu berisi naskah kuno, buku teks pendidikan, hingga karya sastra kontemporer. Para pedagang yang telah berjualan selama puluhan tahun hanya bisa menatap nanar sisa-sisa koleksi mereka yang kini tidak lagi memiliki nilai jual. Kejadian ini menambah daftar panjang kehancuran infrastruktur sipil yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kepentingan militer di lapangan.
Tragedi di Pasar Buku Petrivka dan Kerusakan Masif
Pasar Buku Petrivka merupakan pusat intelektual yang menjadi kebanggaan warga Kyiv. Serangan udara baru-baru ini menghancurkan ribuan volume buku dalam hitungan detik. Berdasarkan data pemantauan budaya, serangan Rusia telah merusak atau memusnahkan jutaan buku di seluruh penjuru Ukraina hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Kehilangan ini menciptakan lubang besar dalam akses informasi dan pendidikan bagi generasi muda Ukraina yang tengah berjuang di tengah kecamuk perang.
- Penghancuran lebih dari 9,2 juta buku di berbagai perpustakaan dan toko buku nasional.
- Target serangan yang mencakup gudang penerbitan besar di wilayah Kharkiv dan Kyiv.
- Hilangnya naskah-naskah langka berbahasa Ukraina yang menjadi bukti sejarah kemerdekaan bangsa.
- Krisis pasokan kertas dan infrastruktur cetak akibat pemboman pabrik pengolahan.
Kondisi ini memaksa para penerbit lokal untuk memindahkan operasional mereka ke tempat yang lebih aman, meski risiko serangan udara tetap menghantui setiap saat. Masyarakat internasional melihat tindakan ini sebagai upaya ‘genosida budaya’ yang bertujuan menghapus memori kolektif bangsa Ukraina. Sebelumnya, militer Rusia juga dilaporkan menghancurkan rumah cetak terbesar di Kharkiv, yang semakin mempertegas target sistematis terhadap industri literasi.
Analisis Penghapusan Identitas Lewat Agresi Budaya
Para analis kebijakan internasional menilai bahwa penghancuran buku merupakan strategi kuno yang digunakan untuk menaklukkan sebuah bangsa secara total. Dengan menghilangkan buku, agresor mencoba memutus rantai transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Rusia tampaknya sangat menyadari bahwa kekuatan Ukraina tidak hanya terletak pada persenjataan militer, tetapi juga pada narasi sejarah dan identitas nasional yang kuat yang tertuang dalam literatur mereka.
Pemerintah Ukraina kini berupaya keras menyelamatkan sisa-isisa literatur yang masih utuh melalui program digitalisasi nasional. Para sukarelawan bekerja siang dan malam untuk memindai dokumen bersejarah sebelum serangan rudal berikutnya terjadi. Namun, digitalisasi tidak dapat menggantikan nilai sentimental dan fisik dari sebuah buku yang menjadi bagian dari keseharian warga. Upaya pemulihan sektor literasi ini diprediksi akan memakan waktu puluhan tahun setelah konflik berakhir.
Kehancuran pasar buku di Kyiv ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa perang ini tidak hanya memperebutkan wilayah teritorial. Ini adalah perang memperebutkan hak untuk mempertahankan kebenaran sejarah dan ekspresi budaya. Selama komunitas internasional belum memberikan perlindungan maksimal terhadap situs-situs budaya, warisan literasi dunia di Ukraina akan terus berada di bawah ancaman kepunahan permanen.

