AJAYGARH – Ratusan warga suku di wilayah Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, menyuarakan protes keras terhadap megaproyek penghubung sungai Ken-Betwa. Proyek ambisius yang menelan biaya sekitar US$87 miliar ini merupakan tahap awal dari program nasional pemerintah India untuk menginterkoneksi sungai-sungai besar. Meskipun pemerintah merancang proyek ini sebagai solusi permanen untuk mengatasi kekeringan di kawasan Bundelkhand, kenyataan di lapangan justru menunjukkan dampak yang kontradiktif dan destruktif bagi masyarakat lokal.
Masyarakat adat setempat melihat pembangunan bendungan dan saluran air ini sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup mereka. Proyek tersebut tidak hanya mengancam lahan pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian utama, tetapi juga menenggelamkan desa-desa leluhur serta situs-situs religi berupa kuil kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi. Gelombang protes ini menandai eskalasi ketegangan antara ambisi pembangunan infrastruktur skala besar dengan hak-hak masyarakat marginal di India.
Ironi Solusi Kekeringan yang Berujung Bencana Banjir Lokal
Pemerintah India mengeklaim bahwa proyek Ken-Betwa akan mengairi jutaan hektar lahan dan menyediakan air minum bagi jutaan orang. Namun, para aktivis lingkungan dan warga terdampak menekankan bahwa metode ini mengabaikan ekologi lokal. Berikut adalah beberapa poin kritis yang menjadi sorotan warga:
- Penenggelaman Kawasan Hutan: Proyek ini diprediksi akan merendam ribuan hektar kawasan hutan lindung, termasuk sebagian dari Cagar Alam Harimau Panna yang sangat vital bagi keanekaragaman hayati.
- Pengungsian Massal: Ribuan keluarga suku terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka tanpa kepastian kompensasi atau lahan relokasi yang layak.
- Kerusakan Situs Budaya: Sejumlah kuil bersejarah yang menjadi pusat spiritualitas warga suku kini berada di bawah ancaman genangan air permanen.
- Ketidakadilan Distribusi Air: Warga khawatir air tersebut justru akan dialihkan untuk kepentingan industri besar daripada petani kecil di pedesaan.
Ancaman Nyata Bagi Masyarakat Suku dan Ekosistem
Keputusan pemerintah untuk melanjutkan proyek ini memicu perdebatan mengenai etika pembangunan. Para ahli hidrologi memperingatkan bahwa memindahkan air antar-lembah sungai dapat mengganggu keseimbangan alami sedimen dan nutrisi tanah. Di sisi lain, warga Ajaygarh merasa suara mereka tidak pernah didengar dalam proses pengambilan keputusan. Mereka menuntut penghentian segera aktivitas konstruksi sebelum dampak lingkungan menjadi permanen dan tidak dapat diperbaiki.
Ketegangan ini mencerminkan pola pembangunan di India yang sering kali mengorbankan masyarakat adat demi kemajuan ekonomi nasional. Kehilangan akses terhadap tanah dan air sungai berarti hilangnya identitas bagi masyarakat suku. Mereka kini terjepit di antara janji kemakmuran dari pemerintah dan kenyataan pahit hilangnya tempat tinggal akibat banjir buatan dari proyek yang seharusnya mencegah kekeringan tersebut.
Analisis Risiko Jangka Panjang Proyek Interkoneksi Sungai
Secara kritis, proyek interkoneksi sungai seperti Ken-Betwa sering kali menghadapi kritik karena biaya yang sangat tinggi namun dengan manfaat yang belum teruji secara jangka panjang. Dibandingkan membangun bendungan raksasa yang merusak ekosistem, banyak pakar menyarankan pemerintah untuk beralih pada pengelolaan air berbasis komunitas dan pemanenan air hujan tradisional yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini menjadi pengingat penting bagi negara-negara berkembang lainnya bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan perlindungan hak asasi manusia dan pelestarian lingkungan.
Kasus di Ajaygarh ini menambah daftar panjang konflik agraria di India yang melibatkan proyek infrastruktur strategis nasional. Tanpa adanya dialog transparan dan solusi yang memihak pada rakyat kecil, proyek senilai miliaran dolar ini berisiko menjadi monumen kegagalan pembangunan yang hanya menyisakan penderitaan bagi warga lokal. Informasi lebih lanjut mengenai kebijakan air global dapat dipelajari melalui laporan mendalam di Al Jazeera.
Berita ini merupakan kelanjutan dari laporan sebelumnya mengenai konflik lahan di Madhya Pradesh, yang kini semakin memanas seiring dimulainya tahap konstruksi bendungan utama di wilayah tersebut.

