JAKARTA – Dua tahun perjalanan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan pengamat politik. Bukannya memperkuat fondasi kepemimpinan, citra putra sulung Presiden ke-7 RI ini justru dianggap semakin merosot, bahkan beberapa pakar menyebutnya ‘babak belur’ secara politik. Fenomena ini mencuat setelah publik menyoroti berbagai langkah simbolis Gibran yang dianggap tidak menyentuh akar permasalahan bangsa, melainkan hanya sekadar upaya menjaga popularitas di tingkat permukaan.
Analisis kritis para pakar menunjukkan bahwa posisi Gibran dalam struktur pemerintahan Prabowo Subianto cenderung hanya berperan sebagai elemen pelengkap atau ‘pemanis’ semata. Kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya kembali isu mengenai latar belakang pendidikannya. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam beberapa pertimbangannya secara implisit memberikan sinyal yang meragukan status kelulusan tingkat menengah atas sang Wapres, sebuah fakta yang langsung memicu polemik mengenai legitimasi moral dan intelektual seorang pejabat negara setingkat Wakil Presiden.
Simbolisme Politik yang Kehilangan Substansi
- Program ‘Lapor Mas Wapres’ yang menuai pro dan kontra karena dianggap mengambil alih fungsi birokrasi teknis.
- Kehadiran dalam acara hiburan seperti memancing gratis yang dinilai tidak mencerminkan urgensi tugas kenegaraan.
- Minimnya keterlibatan Gibran dalam pengambilan keputusan strategis di tingkat kabinet.
- Gaya komunikasi publik yang cenderung menghindari debat substantif mengenai kebijakan publik.
Para pengamat menilai bahwa program seperti ‘Lapor Mas Wapres’ merupakan bentuk populisme usang yang justru menunjukkan kegagalan sistem birokrasi. Seharusnya, seorang Wakil Presiden fokus pada koordinasi lintas kementerian untuk memperbaiki sistem, bukan malah membuka loket pengaduan yang tumpang tindih dengan lembaga seperti Ombudsman atau layanan aduan daerah. Ketidakhadiran gagasan besar dari Gibran selama dua tahun terakhir memperkuat persepsi bahwa ia belum siap memikul beban tanggung jawab nasional yang kompleks.
Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi Terhadap Legitimasi
Persoalan paling krusial yang menghantam kredibilitas Gibran adalah bayang-bayang ketidakjelasan latar belakang pendidikannya. Ketika MK memberikan catatan yang menyiratkan keraguan terhadap kualifikasi akademisnya, kepercayaan publik langsung berada pada titik nadir. Dalam sistem demokrasi yang sehat, kualitas intelektual seorang pemimpin merupakan prasyarat mutlak untuk memastikan kebijakan yang diambil berbasis pada data dan analisis yang matang, bukan sekadar perintah atasan atau insting politik pragmatis.
Ketidakmampuan Gibran dalam memberikan klarifikasi yang tuntas dan transparan terkait isu ini justru memperlebar celah ketidakpercayaan. Akibatnya, setiap langkah politik yang ia ambil selalu dipandang melalui kacamata skeptisisme. Hal ini berbeda jauh dengan narasi ‘keberlanjutan’ yang diusung saat kampanye, di mana ia digambarkan sebagai representasi anak muda yang progresif dan kompeten.
Masa Depan Pemerintahan di Tengah Kritik Tajam
Jika kondisi ini terus berlanjut, pemerintahan Prabowo Subianto mungkin akan menghadapi kendala dalam menjaga soliditas dukungan publik. Wakil Presiden seharusnya menjadi ‘ban serep’ yang siap berakselerasi, bukan beban citra yang harus terus-menerus dipulihkan melalui tim media sosial. Rekonsiliasi antara citra publik dan kapasitas nyata Gibran menjadi harga mati untuk memperbaiki sisa masa jabatannya.
Artikel ini berhubungan dengan analisis sebelumnya mengenai tantangan kepemimpinan nasional di era transisi, yang menekankan pentingnya integritas setiap individu dalam pucuk pimpinan negara. Publik kini menanti, apakah Gibran mampu keluar dari bayang-bayang label ‘pemanis’ dan membuktikan kapasitasnya melalui kerja nyata yang terukur, atau justru tetap terjebak dalam pusaran gimik politik yang melelahkan.

