YERUSALEM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan provokatif yang mengisyaratkan kesiapan Israel untuk mengambil tindakan sepihak terhadap fasilitas nuklir Iran. Pernyataan ini muncul di tengah upaya intensif pemerintah Amerika Serikat untuk membawa Teheran kembali ke meja perundingan guna meredakan ketegangan di Timur Tengah. Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan merasa terikat oleh kesepakatan apa pun yang dianggap justru memberikan jalan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir.
Ketegangan antara Tel Aviv dan Teheran mencapai titik didih baru setelah Netanyahu menyebutkan masih ada ‘tugas besar yang harus diselesaikan’ terkait ancaman nuklir Iran. Meskipun Washington mendorong pendekatan diplomatik, Israel secara konsisten mempertahankan doktrin militer yang menekankan bahwa mereka berhak melakukan operasi pencegahan demi keamanan nasionalnya. Pengamat intelijen menganggap pernyataan Netanyahu sebagai sinyal hijau bagi badan intelijen Mossad untuk melancarkan operasi rahasia tambahan, yang sebelumnya mencakup sabotase fisik hingga pencurian dokumen rahasia nuklir.
Strategi Sabotase Israel Terhadap Ambisi Nuklir Teheran
Sejarah menunjukkan bahwa Israel memiliki rekam jejak panjang dalam mengganggu program nuklir Iran melalui berbagai metode non-konvensional. Langkah ini diambil karena Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial yang tidak bisa hanya ditekan melalui sanksi ekonomi atau perjanjian kertas. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai strategi operasional Israel:
- Operasi Intelijen Terstruktur: Penggunaan malware canggih seperti Stuxnet yang pernah melumpuhkan ribuan sentrifus nuklir Iran tetap menjadi opsi utama dalam perang siber modern.
- Targeting Ilmuwan Utama: Israel dituduh berada di balik pembunuhan sejumlah ilmuwan nuklir top Iran, sebuah langkah yang bertujuan menciptakan ‘brain drain’ dan ketakutan di dalam institusi riset Teheran.
- Pencurian Arsip Nuklir: Pada 2018, Mossad berhasil mencuri ribuan dokumen dari fasilitas di Teheran, yang kemudian Netanyahu gunakan untuk meyakinkan dunia bahwa Iran berbohong mengenai tujuan damai program nuklirnya.
- Sabotase Fisik Fasilitas: Ledakan misterius di fasilitas Natanz berkali-kali membuktikan kerentanan keamanan Iran terhadap penyusupan agen lapangan.
Dilema Diplomasi Amerika Serikat di Tengah Ancaman Israel
Upaya pemerintahan Joe Biden untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir kini menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, Washington harus meredam ambisi nuklir Iran tanpa memicu perang terbuka. Di sisi lain, mereka harus menenangkan kekhawatiran Israel yang secara eksplisit menentang setiap bentuk kompromi dengan Teheran. Perbedaan visi ini menciptakan celah diplomatik yang sering kali dimanfaatkan oleh Iran untuk mempercepat pengayaan uranium mereka.
Netanyahu menyadari bahwa ketergantungan AS pada stabilitas kawasan membuat Washington enggan mendukung serangan militer skala penuh. Oleh karena itu, Israel memilih jalur ‘perang di antara perang’ (war between wars), yakni melakukan serangan-serangan kecil namun fatal yang tidak cukup kuat untuk memicu perang total, tetapi cukup merusak untuk menghambat kemajuan teknologi nuklir musuhnya. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan nuklir Iran menunjukkan bahwa tingkat pengayaan uranium Teheran kini telah mendekati ambang batas pembuatan senjata nuklir.
Analisis: Mengapa Israel Menentang Diplomasi AS-Iran?
Secara analitis, penolakan Netanyahu terhadap negosiasi AS-Iran bukan sekadar masalah teknis nuklir, melainkan masalah hegemoni regional. Israel khawatir bahwa pencabutan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan nuklir akan mengalirkan miliaran dolar ke kas Teheran. Dana tersebut diyakini akan dialokasikan untuk mendanai kelompok proksi seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Analisis ini sejalan dengan peristiwa serupa pada tahun 2015, di mana Israel secara vokal mengkritik kesepakatan JCPOA yang diprakarsai era Obama.
Ke depannya, jika diplomasi AS gagal memberikan jaminan keamanan yang diinginkan Israel, kemungkinan besar kita akan melihat peningkatan aktivitas militer di perairan Teluk atau serangan udara terbatas terhadap situs-situs strategis Iran. Netanyahu tampaknya ingin memastikan bahwa dunia tahu Israel siap bertindak sendiri, dengan atau tanpa persetujuan sekutunya di Gedung Putih.

