JAKARTA – Pemerintah mulai mematangkan narasi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dengan klaim kebijakan fiskal yang ekspansif. Namun, sejumlah ekonom senior justru melemparkan kritik tajam terhadap struktur indikator fiskal tersebut. Mereka menilai bahwa klaim ekspansif pemerintah hanyalah fatamorgana di tengah realita postur anggaran yang semakin tercekik oleh beban pembayaran bunga utang yang kian menjulang. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai kemampuan pemerintah dalam mendanai program-program strategis yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Struktur anggaran yang sehat seharusnya mencerminkan alokasi belanja produktif yang lebih besar daripada biaya penunjang. Sayangnya, analisis terhadap draf awal RAPBN 2027 menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Alih-alih memperbesar ruang gerak pembangunan, sebagian besar penambahan belanja negara justru terserap untuk menambal defisit dan membayar kewajiban masa lalu. Hal ini menciptakan anomali di mana anggaran terlihat besar secara nominal, namun kehilangan daya dorong atau ‘multiplier effect’ terhadap ekonomi riil.
Paradoks Klaim Ekspansif dan Realita Fiskal
Ekonom menekankan bahwa sebuah anggaran disebut ekspansif apabila mampu mendorong permintaan domestik dan menciptakan lapangan kerja baru melalui belanja modal yang masif. Dalam konteks RAPBN 2027, pertumbuhan belanja negara tidak sejalan dengan kenaikan target pendapatan negara secara proporsional. Akibatnya, pemerintah terpaksa menarik utang baru hanya untuk menutupi utang lama atau yang lazim disebut sebagai praktik ‘gali lubang tutup lubang’.
- Keseimbangan Primer Negatif: Defisit keseimbangan primer yang melebar menunjukkan bahwa pemerintah harus berutang bahkan hanya untuk membayar bunga utang, bukan pokoknya.
- Rasio Pajak Stagnan: Tanpa reformasi perpajakan yang agresif, kemandirian fiskal akan terus tergerus oleh ketergantungan pada pembiayaan eksternal.
- Crowding Out Effect: Penarikan utang pemerintah yang terlalu besar berisiko menyedot likuiditas dari pasar perbankan, sehingga sektor swasta kesulitan mendapatkan akses kredit yang murah.
- Kualitas Belanja: Dominasi belanja rutin dan pembayaran bunga utang mengurangi porsi belanja infrastruktur yang krusial bagi pertumbuhan jangka panjang.
Ancaman Beban Bunga Utang Terhadap Belanja Sosial
Pemerintah perlu mewaspadai kenaikan suku bunga global yang berpotensi membengkakkan biaya pinjaman (cost of fund). Jika postur utang dalam RAPBN 2027 tidak segera dimitigasi, maka ruang untuk belanja sosial, subsidi energi, dan pendidikan akan semakin terhimpit. Para analis menyarankan agar otoritas fiskal lebih transparan dalam menyajikan data mengenai jatuh tempo utang agar pasar tidak memberikan reaksi negatif yang bisa memperlemah nilai tukar rupiah.
Selain itu, pemerintah harus memastikan bahwa setiap rupiah yang dipinjam benar-benar dialokasikan untuk proyek yang memiliki tingkat pengembalian ekonomi tinggi. Mengingat kondisi geopolitik yang tidak menentu, strategi manajemen utang yang konservatif namun efektif menjadi kunci utama. Pemanfaatan instrumen surat utang domestik mungkin menjadi pilihan, namun tetap harus memperhatikan daya beli masyarakat agar tidak menimbulkan tekanan inflasi baru.
Rekomendasi Strategis dan Analisis Jangka Panjang
Sebagai bentuk edukasi publik dan analisis evergreen, penting bagi kita untuk memahami bahwa keberlanjutan fiskal (fiscal sustainability) jauh lebih penting daripada sekadar angka pertumbuhan yang semu. Pemerintah wajib melakukan renegosiasi atau restrukturisasi strategi pembiayaan untuk menghindari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) yang sering kali diperparah oleh krisis utang negara.
Anda dapat memantau perkembangan kebijakan fiskal terkini melalui laman resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk mendapatkan data pembanding yang akurat. Sebagaimana telah dibahas dalam artikel sebelumnya mengenai risiko defisit anggaran, RAPBN 2027 ini menjadi ujian krusial bagi kredibilitas ekonomi Indonesia di mata investor internasional. Transformasi ekonomi tidak akan berjalan maksimal jika fondasi fiskalnya masih rapuh dan terbebani oleh manajemen utang yang tidak efisien.
Secara keseluruhan, pemerintah harus membuktikan bahwa klaim ekspansif tersebut bukan sekadar retorika politik menjelang pergantian periode kepemimpinan. Publik menantikan langkah nyata berupa penghematan belanja birokrasi dan optimalisasi pendapatan negara melalui digitalisasi pajak demi menyelamatkan postur APBN dari ancaman kebangkrutan fiskal di masa depan.

