MAJALENGKA – Rencana ambisius pemerintah untuk menyulap Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati menjadi pusat perawatan atau bengkel internasional pesawat Hercules C-130 kini menuai kritik tajam. Kerja sama strategis yang melibatkan Amerika Serikat ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pengamat pertahanan dan intelijen. Meskipun janji keuntungan finansial menggiurkan bagi bandara yang sempat mati suri tersebut, risiko terhadap kedaulatan dan keamanan nasional dianggap jauh lebih besar dan nyata.
Sejumlah pakar menilai bahwa keberadaan fasilitas perawatan militer asing di wilayah domestik dapat membuka celah bagi infiltrasi kepentingan militer luar negeri. Indonesia harus mewaspadai kemungkinan Kertajati berubah menjadi pangkalan militer terselubung bagi Amerika Serikat. Mengingat tensi geopolitik di Laut Natuna Utara yang kian memanas, ketergantungan teknologi dan kehadiran personel militer asing di Jawa Barat berpotensi mengganggu keseimbangan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
Potensi Ancaman Kedaulatan dan Penetrasi Militer Asing
Kekhawatiran utama muncul dari aspek aksesibilitas personel militer asing terhadap infrastruktur vital nasional. Jika Kertajati resmi menjadi pusat perawatan armada C-130 regional, maka intensitas kehadiran teknisi dan konsultan militer Amerika Serikat akan meningkat secara signifikan. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana pemerintah mampu membatasi pergerakan dan akses informasi strategis mereka selama berada di Indonesia.
- Ketergantungan Teknologi: Penggunaan teknologi perawatan dari Amerika Serikat akan membuat industri pertahanan Indonesia semakin bergantung pada kebijakan ekspor militer Washington.
- Risiko Spionase: Konsentrasi pesawat militer di satu titik memudahkan pihak asing untuk memetakan kekuatan udara dan logistik pertahanan Indonesia.
- Provokasi Regional: Kehadiran fasilitas pendukung militer AS di Indonesia dapat memicu reaksi negatif dari negara mitra strategis lainnya, seperti Tiongkok dan Rusia.
- Intervensi Operasional: Adanya potensi kontrol asing terhadap jadwal dan prioritas perawatan pesawat militer milik TNI Angkatan Udara.
Pemerintah seharusnya memprioritaskan kemandirian industri pertahanan melalui perusahaan dalam negeri seperti PT Dirgantara Indonesia. Membangun kapasitas lokal jauh lebih aman daripada membuka pintu bagi kontraktor militer asing. Anda dapat membandingkan rencana ini dengan kebijakan penguatan alutsista sebelumnya melalui laman resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia yang menekankan pentingnya kedaulatan teknologi.
Menakar Dampak Ekonomi versus Stabilitas Geopolitik
Para pendukung proyek ini sering kali menggunakan argumen ekonomi sebagai tameng utama. Mereka mengklaim bahwa bengkel Hercules akan menciptakan lapangan kerja dan menghidupkan ekosistem bisnis di sekitar Majalengka. Namun, argumen tersebut dianggap dangkal jika kita bandingkan dengan potensi biaya politik yang harus dibayar Indonesia di masa depan. Stabilitas kawasan jauh lebih berharga daripada pendapatan dari jasa servis pesawat yang mungkin tidak seberapa jika dihitung dengan risiko keamanan.
- Efek Dominansi: Amerika Serikat memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan fasilitas sipil untuk kepentingan operasional militer mereka di berbagai negara.
- Beban Anggaran: Penyiapan standar fasilitas sesuai kualifikasi Amerika Serikat membutuhkan investasi besar yang kemungkinan besar justru membebani APBN.
- Ketidakpastian Kontrak: Kerja sama militer sering kali bersifat fluktuatif tergantung pada stabilitas hubungan diplomatik kedua negara.
Analisis ini sejalan dengan kekhawatiran yang pernah muncul dalam pembahasan pangkalan militer asing di kawasan Asia Tenggara beberapa dekade lalu. Indonesia harus belajar dari pengalaman sejarah agar tidak terjebak dalam kepentingan hegemoni kekuatan besar. Pemerintah perlu melakukan uji kelayakan publik dan konsultasi mendalam dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebelum meresmikan kerja sama yang mempertaruhkan wajah kedaulatan negara ini.
Sebagai kesimpulan, rencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai bengkel internasional pesawat Hercules memerlukan transparansi total. Jangan sampai ambisi untuk menyehatkan keuangan bandara justru mengorbankan rahasia dapur pertahanan negara. Kepentingan nasional harus selalu berdiri di atas kepentingan bisnis jangka pendek, terutama dalam urusan yang bersinggungan dengan kekuatan militer negara adidaya.

