KENDARI – Peristiwa memilukan mengguncang masyarakat setelah seorang bocah perempuan bernama Najwa mengembuskan napas terakhirnya di aspal jalanan. Bocah yang sehari-hari menjajakan tisu demi menyambung hidup keluarga tersebut tewas mengenaskan setelah sebuah kendaraan melindas tubuh mungilnya. Insiden maut ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi sang ibu, Nurhana, yang masih tidak percaya bahwa pamitan terakhir putrinya merupakan tanda perpisahan selamanya.
Kejadian tragis ini bermula saat Najwa sedang menjalankan rutinitasnya menawarkan tisu kepada pengendara di persimpangan jalan. Namun, situasi berubah mencekam ketika sebuah kendaraan bermotor gagal mengantisipasi keberadaan bocah tersebut sehingga kecelakaan fatal tidak terhindarkan. Para saksi mata di lokasi kejadian berupaya memberikan pertolongan, namun luka berat yang dialami Najwa membuat nyawanya tidak tertolong lagi sebelum sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat.
Firasat Terakhir dan Isak Tangis Sang Ibu
Nurhana mengenang detik-detik terakhir sebelum putrinya berangkat menjemput maut. Menurut penuturannya, ada perilaku yang tidak biasa dari Najwa pada hari nahas tersebut. Sang anak menunjukkan kasih sayang yang jauh lebih intens daripada biasanya sebelum melangkahkan kaki keluar rumah.
- Najwa mencium tangan ibunya dengan durasi yang sangat lama (salim).
- Bocah tersebut secara spesifik meminta ibunya untuk menciumnya berkali-kali.
- Najwa menyampaikan kalimat perpisahan yang kini terasa seperti sebuah firasat nyata bagi keluarga.
- Anak tersebut terlihat sangat bersemangat mencari uang demi membantu kebutuhan makan keluarga di rumah.
“Pas keluar, dia salim lama sekali. Dia cium tanganku, lalu bilang, ‘Mak ciumpi saya lama-lama’,” ungkap Nurhana dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya. Kalimat sederhana itu kini menjadi memori terakhir yang akan selalu menghantui sekaligus menjadi pengingat betapa besarnya pengorbanan seorang anak kecil di tengah himpitan ekonomi yang kian menjerat.
Analisis Fenomena Pekerja Anak di Area Berisiko Tinggi
Kematian Najwa mencerminkan kegagalan sistem perlindungan anak yang masih marak terjadi di kota-kota besar Indonesia. Fenomena anak jalanan yang berjualan tisu atau menjadi pengamen bukan sekadar masalah kemiskinan, melainkan ancaman nyata terhadap hak dasar hidup mereka. Pemerintah daerah perlu mengevaluasi kembali efektivitas patroli dan pengawasan di titik-titik rawan kecelakaan yang sering menjadi tempat anak-anak mencari nafkah. Selain itu, Anda bisa membaca artikel kami sebelumnya mengenai langkah preventif melindungi anak dari eksploitasi jalanan untuk memahami akar permasalahannya secara lebih dalam.
Ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak seharusnya memberikan jaminan bahwa setiap anak berhak atas rasa aman dan perlindungan dari kekerasan serta kecelakaan di tempat kerja yang membahayakan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat jaring pengaman sosial agar tidak ada lagi ‘Najwa-Najwa’ lain yang harus bertaruh nyawa di jalanan demi sepihak nasi.
Langkah Pencegahan dan Kesadaran Pengendara
Selain tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan pengendara memiliki peran krusial dalam menekan angka kecelakaan melibatkan anak-anak di area publik. Berikut adalah beberapa langkah yang harus menjadi perhatian bersama:
- Meningkatkan kewaspadaan saat melintasi lampu merah atau persimpangan jalan yang banyak terdapat pedagang asongan.
- Mendorong program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga prasejahtera agar anak tidak terpaksa turun ke jalan.
- Melaporkan kepada pihak berwenang jika melihat adanya praktik eksploitasi anak yang terorganisir di jalan raya.
- Mendukung pendidikan gratis dan fasilitas rumah singgah yang layak bagi anak-anak rentan.
Tragedi di Kendari ini harus menjadi momentum evaluasi total bagi semua pihak. Kehilangan nyawa seorang anak bukan hanya duka keluarga, melainkan duka kemanusiaan yang menuntut aksi nyata, bukan sekadar kata-kata belasungkawa tanpa perubahan kebijakan yang berarti.



