BEIJING – Upaya China untuk menarik Jerman ke dalam lingkaran pengaruhnya menghadapi tembok besar berupa ketidakpercayaan mendalam dari Uni Eropa. Meskipun Beijing mencoba memanfaatkan ketidakpastian politik di Amerika Serikat menjelang pemilihan presiden, Kanselir Olaf Scholz menunjukkan bahwa keluhan Eropa terhadap China jauh melampaui sekadar frustrasi terhadap Donald Trump. Beijing berusaha keras membangun narasi bahwa kemitraan dengan Jerman adalah kunci stabilitas global, namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya jurang perbedaan yang semakin lebar dalam isu perdagangan dan keamanan regional.
Pemerintah China secara strategis memposisikan diri sebagai mitra stabil bagi Berlin di tengah ancaman kembalinya kebijakan isolasionis Amerika Serikat. Namun, para pemimpin Eropa kini melihat China bukan hanya sebagai mitra dagang, melainkan juga sebagai saingan sistemik yang mengancam struktur industri benua biru. Ketegangan ini tidak bersifat sementara, melainkan hasil dari akumulasi ketidakpuasan selama bertahun-tahun terhadap praktik pasar China yang dianggap tidak adil.
Strategi Beijing Memanfaatkan Celah Transatlantik
Presiden Xi Jinping melihat peluang besar dalam keraguan Eropa terhadap komitmen jangka panjang Washington. Dengan menggandeng Jerman, yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, China berharap dapat memecah konsensus Barat dalam memberikan sanksi atau pembatasan teknologi. Beijing menggunakan retas diplomasi ekonomi untuk merayu para bos industri Jerman agar tetap menanamkan investasi besar di daratan China.
- China menawarkan akses pasar yang lebih luas bagi perusahaan otomotif Jerman sebagai kompensasi dukungan politik.
- Beijing mencoba melemahkan narasi ‘de-risking’ yang digaungkan oleh Komisi Eropa.
- Pemanfaatan isu perubahan iklim sebagai landasan kerja sama teknologi hijau antara kedua negara.
Namun, langkah ini tidak berjalan mulus karena Berlin mulai menyadari bahwa ketergantungan ekonomi yang terlalu besar pada satu negara berisiko bagi kedaulatan nasional mereka. Pengalaman pahit ketergantungan energi pada Rusia menjadi pelajaran berharga yang kini diterapkan dalam konteks hubungan dengan Beijing.
Keluhan Ekonomi yang Melampaui Isu Politik
Masalah utama yang menghambat kemesraan Beijing dan Berlin adalah banjirnya produk murah dari China, terutama kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan. Jerman melihat subsidi besar-besaran dari pemerintah China sebagai bentuk distorsi pasar yang membahayakan masa depan industri manufaktur Eropa. Hubungan ini tidak lagi seimbang seperti dua dekade lalu saat Jerman memasok mesin ke China; kini China telah menjadi kompetitor tangguh yang agresif.
Selain masalah subsidi, hambatan regulasi bagi perusahaan asing di China tetap menjadi duri dalam daging. Data perdagangan Uni Eropa menunjukkan ketimpangan yang semakin mengkhawatirkan, memicu seruan untuk tindakan proteksionis yang lebih tegas dari Brussel. Tanpa adanya reformasi struktural dari pihak Beijing, Jerman sulit untuk memberikan komitmen penuh yang diharapkan oleh Xi Jinping.
Geopolitik dan Dilema Keamanan Global
Di luar urusan ekonomi, sikap China terhadap konflik di Ukraina menjadi faktor krusial yang mendinginkan hubungan. Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya merasa kecewa dengan dukungan diam-diam Beijing terhadap Moskow. Bagi Berlin, keamanan di Eropa adalah harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan demi keuntungan dagang jangka pendek.
- Eropa menuntut China menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan agresi Rusia di Ukraina.
- Adanya kekhawatiran mengenai aktivitas spionase siber yang diduga berasal dari aktor-aktor yang didukung negara China.
- Perbedaan pandangan yang tajam mengenai stabilitas di Selat Taiwan dan hak asasi manusia.
Secara keseluruhan, meskipun China sangat menginginkan Jerman berada di pihaknya untuk menyeimbangkan dominasi Amerika, hambatan struktural dan perbedaan nilai-nilai dasar membuat aliansi tersebut sulit terwujud. Jerman kini lebih memilih untuk memperkuat solidaritas di dalam Uni Eropa daripada terjebak dalam rayuan ekonomi Beijing yang penuh risiko. Analisis ini mempertegas bahwa diplomasi tidak bisa hanya dibangun di atas fondasi pragmatisme ekonomi, tetapi juga harus selaras dengan prinsip keamanan dan keadilan perdagangan global.

