BEIRUT – Eskalasi militer Israel yang semakin agresif di wilayah Lebanon Selatan memicu pergeseran sentimen publik yang signifikan di kalangan warga lokal. Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang rapuh masih membayangi kawasan tersebut, tindakan tentara Israel yang secara sistematis menghancurkan desa-desa perbatasan justru membangkitkan kembali solidaritas terhadap Hezbollah. Warga yang sebelumnya merasa frustrasi dan menyalahkan kelompok tersebut atas kehancuran ekonomi negara kini mulai melihat Hezbollah sebagai satu-satunya kekuatan pelindung yang tersisa.
Pasukan pertahanan Israel terus melakukan pembongkaran bangunan di beberapa titik strategis dengan dalih menghancurkan infrastruktur militer. Namun, dampak nyata dari taktik bumi hangus ini adalah hilangnya pemukiman sipil yang telah berdiri selama puluhan tahun. Situasi ini memaksa ribuan pengungsi untuk mempertimbangkan kembali posisi politik mereka. Banyak dari mereka kini mengesampingkan kekesalan terhadap Hezbollah demi kebutuhan mendesak akan keamanan dan pertahanan tanah air.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Taktik Bumi Hangus Israel
Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa militer Israel tetap aktif melakukan operasi penghancuran meski pembicaraan diplomatik terus berjalan. Hal ini menciptakan ketakutan mendalam bahwa Israel bermaksud menciptakan zona penyangga yang kosong dari penduduk. Beberapa poin krusial yang memperburuk situasi di lapangan meliputi:
- Penggunaan bahan peledak skala besar untuk meratakan seluruh blok pemukiman di desa-desa seperti Marjayoun dan Khiam.
- Penargetan infrastruktur sipil yang menghambat kembalinya warga pengungsi ke rumah mereka.
- Frekuensi serangan udara yang meningkat setiap kali terdapat gesekan kecil di garis perbatasan.
- Ketidakmampuan pasukan internasional (UNIFIL) untuk menghentikan penghancuran properti milik warga Lebanon.
Kondisi ini menciptakan kemarahan kolektif yang melampaui batas-batas sektarian di Lebanon. Rakyat merasa dikhianati oleh komunitas internasional yang dianggap gagal menekan Israel untuk menghormati kedaulatan wilayah Lebanon dan hak-hak warga sipil.
Transformasi Sentimen Publik Dari Frustrasi Menjadi Ketergantungan
Sebelum eskalasi terbaru ini, Hezbollah menghadapi kritik tajam dari berbagai lapisan masyarakat Lebanon. Banyak pihak menuding kelompok tersebut menyeret Lebanon ke dalam perang yang tidak diinginkan saat negara sedang berjuang melawan krisis finansial terburuk sepanjang sejarah. Namun, narasi tersebut berubah seketika saat ancaman eksistensial dari Israel semakin nyata. Sebagaimana yang dibahas dalam laporan terkini mengenai stabilitas Timur Tengah, agresi luar seringkali menjadi katalisator persatuan domestik di wilayah konflik.
Masyarakat kini lebih memprioritaskan kelangsungan hidup daripada perdebatan politik internal. Mereka melihat bahwa tanpa kehadiran milisi yang terorganisir, desa-desa mereka akan lebih mudah diduduki atau dihancurkan secara permanen. Oleh karena itu, dukungan logistik dan moral terhadap para pejuang Hezbollah di garis depan kembali mengalir deras dari desa-desa di pegunungan hingga pusat kota Beirut.
Analisis Strategis Dampak Perang Terhadap Posisi Politik Hezbollah
Secara geopolitik, tindakan Israel yang melampaui batas justru memberikan napas baru bagi legitimasi Hezbollah sebagai gerakan perlawanan. Dalam analisis jangka panjang, strategi militer Israel yang bertujuan melemahkan Hezbollah tampaknya menghasilkan efek bumerang. Setiap bangunan yang hancur menjadi simbol ketidakadilan yang memperkuat ideologi perlawanan di mata pemuda Lebanon.
Pemerintah Lebanon sendiri saat ini berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka harus menuntut kepatuhan terhadap kesepakatan internasional, namun di sisi lain, mereka tidak memiliki kekuatan militer konvensional yang mampu menandingi Israel. Ketimpangan kekuatan ini memaksa negara untuk memberikan ruang bagi Hezbollah guna menjalankan fungsi pertahanan secara de facto.
Artikel ini berkaitan dengan analisis sebelumnya mengenai dampak krisis ekonomi Lebanon terhadap kesiapan militer, di mana kita melihat bagaimana keterbatasan anggaran negara membuat militer resmi sulit beroperasi maksimal tanpa dukungan milisi rakyat. Ke depannya, jika Israel terus melanjutkan kebijakan entrenchment atau pengukuhan posisi di wilayah selatan, maka stabilitas regional akan semakin sulit dicapai, dan ketergantungan publik Lebanon terhadap Hezbollah diprediksi akan terus menguat.

