JOMBANG – KH Abdussalam Shohib, yang akrab masyarakat sapa dengan panggilan Gus Salam, melontarkan peringatan keras menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Cucu salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri ini, menekankan bahwa hajatan akbar lima tahunan tersebut harus benar-benar menjunjung tinggi nilai independensi. Beliau menilai bahwa netralitas organisasi merupakan fondasi utama untuk menjaga martabat jamiyah di mata umat dan bangsa.
Langkah ini muncul sebagai respons atas dinamika internal dan eksternal yang seringkali mewarnai proses pemilihan kepemimpinan di tubuh PBNU. Gus Salam mengingatkan bahwa sejarah panjang NU berdiri di atas kemandirian para ulama, bukan berdasarkan pesanan kekuatan politik manapun. Artikel ini juga menyambung diskusi sebelumnya mengenai penguatan Khittah 1926 yang terus menjadi perdebatan hangat di kalangan nahdliyin.
Menjaga Marwah Pendiri dan Khittah NU
Gus Salam menegaskan bahwa para pendiri NU, termasuk kakeknya KH Bisri Syansuri, meletakkan dasar organisasi ini untuk kepentingan dakwah dan sosial, bukan sebagai alat tawar politik praktis. Keinginan agar Muktamar ke-35 berjalan independen bukan sekadar harapan kosong, melainkan sebuah keharusan sejarah. Berikut adalah poin utama yang menjadi sorotan Gus Salam:
- Menolak segala bentuk intervensi dari pihak luar, baik dari unsur pemerintah maupun partai politik tertentu.
- Mendorong panitia muktamar untuk bekerja secara transparan dan akuntabel sejak tahap pendaftaran peserta hingga penghitungan suara.
- Memastikan bahwa pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah dan Rais Aam berjalan berdasarkan musyawarah mufakat yang sehat.
- Mengembalikan marwah Muktamar sebagai ajang adu gagasan untuk kemaslahatan umat di abad kedua NU.
Tantangan Netralitas di Era Transisi Kepemimpinan
Narasi mengenai independensi ini mencuat di tengah kekhawatiran publik mengenai potensi polarisasi di dalam tubuh organisasi. Gus Salam melihat bahwa tantangan Muktamar ke-35 akan jauh lebih berat daripada muktamar sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan pergeseran lanskap politik nasional yang cenderung ingin menarik organisasi massa besar seperti NU ke dalam pusaran kepentingan elektoral.
Beliau mengajak seluruh jajaran pengurus di tingkat wilayah (PWNU) hingga cabang (PCNU) untuk memiliki keteguhan sikap. Tanpa integritas dari pemilik suara, maka independensi muktamar hanyalah slogan tanpa makna. Gus Salam meyakini bahwa hanya dengan pemimpin yang lahir dari proses yang bersih, NU mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks tanpa harus terbebani oleh utang budi politik.
Analisis: Mengapa Independensi Muktamar Begitu Krusial?
Secara analitis, independensi dalam Muktamar NU berfungsi sebagai sistem imunitas bagi organisasi. Ketika intervensi eksternal masuk, kebijakan organisasi cenderung tidak lagi objektif dalam merespons persoalan rakyat. Gus Salam secara konsisten menyuarakan agar para peserta muktamar melihat kembali sejarah perjuangan para muassis yang mengutamakan kemandirian berpikir dan bertindak.
Kehadiran tokoh muda sekaligus dzurriyah pendiri seperti Gus Salam memberikan sinyal bahwa arus bawah menginginkan perubahan mendasar dalam tata kelola organisasi. Untuk memahami lebih lanjut mengenai regulasi organisasi, Anda dapat merujuk pada AD/ART Nahdlatul Ulama yang mengatur mekanisme pengambilan keputusan tertinggi.
Sebagai penutup, Gus Salam berharap Muktamar ke-35 menjadi momentum rekonsiliasi dan penguatan visi NU untuk satu abad ke depan. Jika independensi berhasil terjaga, maka siapapun yang terpilih nantinya akan mendapatkan legitimasi yang kuat dari seluruh warga nahdliyin di seluruh dunia.

