DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster secara tegas menyatakan bahwa kemajuan teknologi mutakhir seperti Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak boleh mencerabut akar budaya masyarakat Bali. Dalam berbagai kesempatan strategis, Koster mengingatkan para pemangku kepentingan agar tidak memandang teknologi sebagai entitas yang terpisah dari identitas lokal. Sebaliknya, ia mendorong agar setiap inovasi digital yang masuk ke Pulau Dewata harus mampu beradaptasi dan memperkuat nilai-nilai tradisional yang telah ada selama berabad-abad.
Pandangan ini muncul sebagai respon terhadap kekhawatiran global mengenai potensi AI yang seringkali mengabaikan konteks sosial dan budaya setempat. Koster menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan di Bali hanya akan tercapai jika modernisasi berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Langkah ini merupakan bagian dari visi besar ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ yang bertujuan menjaga keharmonisan alam, manusia, dan kebudayaan Bali di tengah gempuran disrupsi teknologi global.
Menyeimbangkan Inovasi Digital dengan Kearifan Lokal
Pemerintah Provinsi Bali saat ini tengah merancang berbagai kebijakan yang memastikan bahwa transformasi digital tetap membumi. Koster meyakini bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pariwisata, hingga manajemen kebencanaan. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa algoritma yang digunakan tidak boleh bertentangan dengan etika dan norma masyarakat Bali. Penggunaan teknologi harus bertujuan untuk memuliakan manusia, bukan sekadar mengejar produktivitas tanpa jiwa.
Implementasi teknologi yang tidak terkontrol dikhawatirkan dapat mengikis keunikan Bali yang selama ini menjadi daya tarik utama dunia. Oleh karena itu, kolaborasi antara akademisi, praktisi teknologi, dan tokoh adat menjadi sangat krusial. Mereka bertugas menyaring mana teknologi yang membawa manfaat nyata dan mana yang berisiko merusak tatanan sosial. Beberapa poin utama yang menjadi fokus dalam pengembangan AI di Bali meliputi:
- Pelestarian bahasa dan aksara Bali melalui digitalisasi berbasis AI yang akurat.
- Pengembangan sistem pertanian cerdas (Smart Farming) yang terintegrasi dengan sistem irigasi tradisional Subak.
- Optimalisasi manajemen pariwisata yang menghormati zona-zona suci dan kawasan konservasi budaya.
- Penyusunan regulasi etika AI yang memasukkan variabel nilai-nilai lokal Bali sebagai parameter utama.
Penerapan AI untuk Mendukung Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali
Langkah progresif ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem digital yang sehat di Bali. Jika sebelumnya pemerintah fokus pada penyediaan infrastruktur internet hingga ke tingkat desa, kini fokus beralih pada konten dan substansi teknologi itu sendiri. Koster melihat bahwa tantangan masa depan bukan lagi soal akses internet, melainkan bagaimana data dan kecerdasan buatan dikelola untuk kepentingan rakyat Bali tanpa menghilangkan jati diri mereka.
Integrasi AI ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan klasik di Bali, seperti kemacetan di area wisata dan pengelolaan sampah. Dengan analisis data yang tajam dari teknologi AI, pemerintah dapat mengambil kebijakan yang lebih presisi dan berbasis data (evidence-based policy). Hal ini sejalan dengan panduan global mengenai Etika Kecerdasan Buatan yang menekankan pentingnya inklusivitas dan penghormatan terhadap keberagaman budaya dalam setiap pengembangan sistem cerdas.
Pada akhirnya, Wayan Koster optimis bahwa Bali dapat menjadi role model dunia dalam mengawinkan kecanggihan teknologi dengan kekentalan tradisi. Ia mengajak generasi muda Bali untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi pencipta solusi digital yang tetap memiliki ‘roh’ Bali. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak akan menjadi ancaman, melainkan menjadi alat yang memperkokoh fondasi kebudayaan Bali di panggung internasional.

