PARIS – Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, secara terbuka meluapkan rasa herannya terhadap pola undian Liga Champions yang menimpa timnya. Arsitek asal Spanyol tersebut menilai tidak ada satu pun tim di kompetisi paling bergengsi di Eropa ini yang mendapatkan jalur sesulit Les Parisiens. Sejak ia menjabat, Enrique merasa PSG selalu terjepit di antara tim-tim raksasa dunia, bahkan sejak putaran awal kompetisi dimulai.
Komentar pedas Enrique ini muncul setelah melihat rentetan lawan yang harus dihadapi PSG dalam beberapa musim terakhir. Mantan pelatih Barcelona itu menekankan bahwa keberuntungan seolah enggan berpihak kepada publik Parc des Princes saat bola undian mulai berputar. Baginya, situasi ini menciptakan tantangan fisik dan mental yang jauh lebih berat bagi para pemainnya dibandingkan kontestan lain yang mungkin mendapatkan undian lebih lunak.
Keluhan Terbuka Sang Entrenador Terkait Rivalitas UCL
Luis Enrique menegaskan bahwa statistik pertemuan PSG dengan tim-tim besar bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan sebuah tren yang melelahkan. Ia menganggap PSG merupakan tim yang paling sering menghadapi ‘Grup Neraka’ atau lawan tangguh di fase gugur secara beruntun. Pernyataan ini sekaligus menjadi pembelaan Enrique atas performa timnya yang seringkali mendapat kritik tajam saat gagal melaju lebih jauh.
- PSG harus menghadapi Bayern Munchen, Atletico Madrid, hingga Manchester City dalam jadwal yang padat.
- Struktur kompetisi baru Liga Champions musim ini justru mempertemukan mereka dengan lebih banyak tim unggulan.
- Kurangnya masa istirahat pemain akibat intensitas pertandingan yang tinggi melawan rival selevel.
- Tuntutan besar dari manajemen Qatar untuk segera membawa pulang trofi Si Kuping Besar.
Meskipun mengeluh, Enrique tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk menjaga mentalitas pemenang. Ia percaya bahwa untuk menjadi juara sejati, PSG memang harus mampu menumbangkan siapa pun. Namun, ia tetap menyoroti ketimpangan beban yang harus dipikul timnya jika dibandingkan dengan beberapa tim elit lain yang sering mendapatkan jalur relatif lebih mudah menuju final.
Analisis Teknis: Mengapa Undian PSG Selalu Terasa Berat?
Secara analitis, perasaan Enrique sebenarnya didukung oleh data koefisien dan pembagian pot yang seringkali menempatkan PSG pada posisi sulit. Perubahan format kompetisi oleh UEFA memang bertujuan meningkatkan jumlah pertandingan besar di fase awal guna mendongkrak pendapatan hak siar. Sayangnya, PSG tampaknya menjadi ‘korban utama’ dari skema baru ini, di mana mereka harus bertemu lebih banyak tim dari Pot 1 dan Pot 2 sekaligus.
Kondisi ini berbeda jauh dengan era kejayaan PSG beberapa tahun lalu, di mana mereka masih bisa bernapas lega di fase grup. Kini, setiap pertandingan terasa seperti laga final yang menuntut kebugaran maksimal. Enrique menyadari bahwa kedalaman skuad menjadi kunci utama untuk bertahan dalam badai jadwal yang sangat ekstrem ini. Tanpa rotasi yang cerdas, risiko cedera pemain pilar akan menghantui Les Parisiens sepanjang musim.
Evergreen: Tantangan PSG Menembus Dominasi Sejarah UCL
Masalah PSG di Liga Champions sebenarnya melampaui sekadar undian sulit. Sejarah mencatat bahwa tim-tim yang baru membangun kekuatan melalui investasi besar seringkali membutuhkan waktu lama untuk memahami ‘DNA’ juara di kompetisi ini. Manchester City membutuhkan waktu satu dekade lebih dengan pelatih yang sama untuk akhirnya angkat piala. PSG sedang berada di jalur tersebut, namun tekanan publik seringkali tidak memberikan ruang untuk proses.
Luis Enrique berusaha mengubah budaya klub dari sekadar kumpulan bintang menjadi sebuah unit kolektif yang solid. Jika mereka berhasil melewati jalur sulit ini, maka mentalitas juara yang terbentuk akan jauh lebih kuat. Tantangan melawan tim-tim besar di awal musim seharusnya dipandang sebagai simulasi tingkat tinggi sebelum memasuki babak krusial. Pada akhirnya, keluhan Enrique ini bisa menjadi bahan bakar motivasi bagi para pemain untuk membuktikan bahwa PSG layak berada di puncak Eropa tanpa bantuan keberuntungan undian.

