JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama Ganjar Pranowo memilih cara unik untuk memperingati Bulan Bung Karno dengan menggelar nonton bareng film fiksi ilmiah ikonik, Ghost in the Shell. Agenda ini bukan sekadar aktivitas hiburan biasa, melainkan menjadi medium dialektika untuk membedah tantangan zaman yang semakin kompleks. Keduanya memandang bahwa karya seni sinematik mampu menjadi cermin tajam dalam melihat dinamika sosial, politik, serta kemajuan teknologi yang sedang melanda Indonesia saat ini.
Langkah ini menunjukkan pergeseran gaya komunikasi politik yang lebih segar, di mana nilai-nilai ideologis Bung Karno tidak lagi hanya disampaikan melalui podium formal, tetapi juga lewat analisis budaya populer. Hasto menekankan bahwa pemikiran sang Proklamator selalu relevan dalam menjawab tantangan masa depan, termasuk di era kecerdasan buatan dan digitalisasi yang menjadi tema utama dalam film tersebut.
Kritik Sosial dan Eksistensi Manusia di Era Digital
Film Ghost in the Shell yang mereka saksikan mengisahkan tentang pergulatan identitas di tengah dominasi teknologi siber. Ganjar Pranowo menyoroti bagaimana narasi film tersebut bersinggungan dengan kondisi bangsa yang sedang berupaya menjaga kedaulatan di ruang digital. Menurutnya, refleksi ini sangat penting agar masyarakat tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernitas yang sangat kencang.
- Kedaulatan Data: Perlunya perlindungan identitas warga negara dalam ekosistem digital yang rentan.
- Etika Teknologi: Mengingatkan bahwa teknologi harus mengabdi pada kemanusiaan, bukan sebaliknya.
- Kesadaran Kritis: Mengajak generasi muda untuk tetap kritis terhadap informasi dan manipulasi siber.
- Integrasi Budaya: Memperkuat akar budaya nasional agar tidak tergerus oleh globalisasi teknologi.
Analisis mendalam terhadap film ini membawa ingatan pada konsep ‘Tri Sakti’ Bung Karno, khususnya berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam kebudayaan. Tanpa kepribadian yang kuat, manusia hanya akan menjadi ‘shell’ atau cangkang tanpa jiwa di bawah kendali algoritma global. Diskusi ini mempertegas bahwa perjuangan politik masa kini juga mencakup perjuangan atas ruang kesadaran manusia.
Visi Masa Depan Bung Karno dalam Konteks Kekinian
Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa Bulan Bung Karno merupakan momentum tepat untuk menyerap api semangat pemikiran Bung Karno, bukan sekadar abunya. Dengan membedah film ini, kader partai dan masyarakat diajak untuk melihat bagaimana visi kedaulatan harus bertransformasi mengikuti zaman. Hubungan antara sejarah masa lalu dengan tantangan masa depan menjadi jembatan yang harus dibangun secara berkelanjutan oleh para pemimpin nasional.
Fenomena ini juga berkaitan dengan diskusi sebelumnya mengenai tema filosofis Ghost in the Shell yang sering kali membahas batas antara mesin dan ruh manusia. Dalam konteks kebangsaan, ‘ruh’ tersebut adalah Pancasila dan semangat gotong royong yang harus tetap hidup dalam sistem pemerintahan yang semakin terdigitalisasi. Tanpa nilai-nilai tersebut, kemajuan teknologi hanya akan menciptakan jurang sosial yang lebih lebar.
Melalui refleksi ini, Hasto dan Ganjar berharap masyarakat, terutama generasi Z dan Milenial, dapat memahami bahwa mencintai pemikiran Bung Karno berarti memiliki keberanian untuk berpikir visioner. Mereka mendorong adanya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi di Indonesia tetap berada dalam koridor kepentingan nasional dan martabat kemanusiaan.

