TEHERAN – Mojtaba Khamenei, sosok yang memiliki pengaruh signifikan dalam lingkaran kekuasaan tertinggi di Republik Islam Iran, melontarkan kritik tajam terhadap manuver politik Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan bahwa kedua negara tersebut kini beralih ke strategi perang psikologis dengan mencoba menanamkan benih perpecahan di antara rakyat Iran. Pernyataan ini muncul sebagai respon atas apa yang ia sebut sebagai kegagalan telak blok Barat dan sekutunya dalam menghadapi kekuatan Iran di medan tempur konvensional maupun lewat persaingan pengaruh di kawasan Timur Tengah.
Narasi yang Mojtaba usung mencerminkan posisi defensif sekaligus agresif Teheran dalam menghadapi sanksi ekonomi dan tekanan diplomatik yang tak kunjung reda. Menurutnya, ketika kekuatan militer musuh tidak lagi mampu menekan kedaulatan Iran, mereka akan mencari celah melalui instabilitas internal. Upaya adu domba ini, lanjut Mojtaba, menyasar kohesi sosial yang selama ini menjadi fondasi kekuatan revolusi Iran sejak tahun 1979.
Strategi Perang Asimetris dan Infiltrasi Budaya
Dalam analisisnya, Mojtaba Khamenei menekankan bahwa musuh-musuh Iran sedang memanfaatkan berbagai platform untuk menciptakan narasi yang mendiskreditkan pemerintah. Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat menggunakan keunggulan teknologi informasi untuk menyebarkan disinformasi yang bertujuan memicu keresahan publik. Strategi ini bukan lagi tentang perebutan wilayah secara fisik, melainkan perebutan persepsi di benak masyarakat dunia, khususnya generasi muda Iran.
- Eksploitasi isu ekonomi domestik untuk memicu gelombang protes massa yang tidak terkendali.
- Penyebaran propaganda melalui media sosial untuk mengikis kepercayaan publik terhadap otoritas agama dan politik.
- Pemanfaatan agen-agen infiltrasi yang beroperasi di bawah kedok organisasi kemanusiaan atau lembaga swadaya masyarakat.
- Menciptakan polarisasi tajam antara kelompok konservatif dan reformis guna melemahkan pengambilan keputusan nasional.
Kegagalan Geopolitik Amerika Serikat di Timur Tengah
Kritik Mojtaba juga menyoroti bagaimana keterlibatan Amerika Serikat di berbagai konflik regional, mulai dari Irak hingga Suriah, tidak menghasilkan stabilitas yang mereka janjikan. Sebaliknya, Iran justru berhasil memperluas jaringan pengaruhnya melalui poros perlawanan. Kegagalan Washington untuk membendung pengaruh Teheran inilah yang menurut Mojtaba memicu frustrasi sehingga mereka menggunakan taktik ‘pecah belah’ yang usang namun tetap berbahaya.
Israel pun tidak luput dari sasaran kritiknya. Mojtaba menyebut bahwa Tel Aviv saat ini berada dalam posisi paling rentan sepanjang sejarahnya karena ketidakmampuan mereka meredam perlawanan di perbatasan. Dengan kondisi militer yang terkuras, Israel dianggap lebih memilih melakukan sabotase internal dan pembunuhan tokoh-tokoh penting daripada menghadapi Iran dalam perang terbuka yang berisiko tinggi bagi keberlangsungan negara mereka sendiri.
Implikasi Politik Dalam Negeri dan Suksesi Iran
Kemunculan Mojtaba ke panggung publik dengan pernyataan yang sangat politis dan strategis ini memicu spekulasi luas mengenai perannya di masa depan. Sebagai putra dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, setiap kata yang ia ucapkan mengandung beban politik yang besar. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana Iran menyikapi transisi kepemimpinan di masa mendatang di tengah ancaman eksternal yang terus mengintai.
Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan keras yang sebelumnya diambil oleh pemerintah Iran dalam menangani demonstrasi nasional. Publik dapat melihat pola yang konsisten di mana Teheran selalu menghubungkan setiap gejolak domestik dengan intervensi asing. Dengan mengidentifikasi AS dan Israel sebagai dalang di balik perpecahan, elit politik Iran berusaha memperkuat sentimen nasionalisme dan solidaritas di bawah bendera perlawanan anti-imperialisme.
Informasi lebih mendalam mengenai perkembangan geopolitik di kawasan ini dapat dipantau melalui laporan rutin dari Reuters Middle East. Analisis ini melengkapi catatan sebelumnya mengenai ketegangan Iran-Israel yang sempat memuncak beberapa bulan lalu, menunjukkan bahwa medan tempur kini telah bergeser dari rudal ke ranah opini publik.

