JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa integritas data dan partisipasi publik memegang peranan krusial dalam memajukan sektor kebudayaan di Indonesia. Menurutnya, pembangunan nasional yang berkelanjutan tidak akan mencapai hasil optimal tanpa fondasi informasi yang valid serta keterlibatan aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Lestari memandang kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan instrumen strategis yang harus terintegrasi dalam setiap kebijakan pembangunan negara.
Lestari mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam mengelola sektor kebudayaan saat ini adalah minimnya sinkronisasi data antarlembaga. Kondisi ini seringkali menyebabkan kebijakan yang diambil pemerintah menjadi tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, penguatan basis data kebudayaan menjadi kebutuhan mendesak agar arah pembangunan memiliki tolok ukur yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sosial.
Urgensi Data Akurat dalam Kebijakan Kebudayaan
Data yang akurat berfungsi sebagai peta jalan bagi pemerintah dalam merumuskan program-program strategis. Tanpa data yang kuat, identifikasi terhadap potensi budaya di berbagai daerah akan terhambat. Lestari menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik budaya yang unik, yang memerlukan pendekatan berbeda dalam pengembangannya. Dengan basis data yang solid, pemerintah dapat memetakan kebutuhan mendesak, mulai dari pelestarian cagar budaya hingga pemberdayaan pelaku seni lokal.
Selain itu, validitas data membantu dalam proses alokasi anggaran yang lebih transparan dan efektif. Lestari mendorong kementerian terkait untuk segera melakukan digitalisasi data kebudayaan agar mudah diakses dan diperbarui secara berkala. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan Satu Data Indonesia yang mengintegrasikan berbagai sektor demi efisiensi birokrasi.
Peran Aktif Masyarakat dalam Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berbasis budaya menuntut keterlibatan kolektif, bukan sekadar kebijakan dari atas ke bawah (top-down). Lestari mengajak warga untuk lebih proaktif dalam menjaga dan mempromosikan nilai-nilai lokal mereka. Partisipasi warga memastikan bahwa pembangunan tetap berpijak pada kearifan lokal dan tidak mencabut akar identitas bangsa di tengah arus modernisasi yang masif.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian nilai-nilai tradisi sebagai identitas nasional.
- Mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas kreatif dalam mengelola potensi budaya.
- Memastikan sektor kebudayaan berkontribusi nyata terhadap peningkatan ekonomi kreatif dan kesejahteraan warga sekitar.
- Membangun ekosistem pendidikan yang menginternalisasi nilai budaya sejak dini kepada generasi muda.
Menuju Integrasi Budaya dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Lestari Moerdijat juga menyoroti perlunya menyelaraskan langkah ini dengan semangat Pemajuan Kebudayaan yang diamanatkan oleh undang-undang. Ia berargumen bahwa sektor kebudayaan harus menjadi arus utama dalam rencana pembangunan jangka panjang. Langkah ini merupakan strategi untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional melalui diplomasi budaya yang berbasis pada keunggulan autentik bangsa.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa negara-negara maju cenderung menempatkan kebudayaan sebagai pilar ekonomi yang signifikan. Indonesia, dengan kekayaan diversitasnya, memiliki peluang besar untuk mengikuti jejak tersebut jika mampu mengelola data dan partisipasi publik secara profesional. Upaya ini merupakan bentuk investasi jangka panjang yang hasilnya akan dinikmati oleh generasi mendatang dalam bentuk karakter bangsa yang tangguh dan mandiri secara ekonomi.
Sebagai langkah lanjut dari pembahasan sebelumnya mengenai penguatan karakter bangsa, integrasi data ini menjadi pelengkap bagi infrastruktur sosial yang sedang dibangun pemerintah. Sinergi antara kebijakan pusat dan aspirasi daerah akan menciptakan harmoni dalam pembangunan yang tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga kualitas hidup dan kelestarian identitas.

