JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengambil langkah taktis untuk mengakselerasi penyelesaian target pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di wilayah Sumatra. Pemerintah menyadari bahwa pemulihan infrastruktur pascabencana memerlukan kecepatan dan ketepatan agar masyarakat terdampak segera mendapatkan tempat tinggal yang layak. Dalam keterangannya, Tito menekankan bahwa kementeriannya tidak hanya mengandalkan satu sumber pendanaan, melainkan mengombinasikan berbagai potensi instrumen keuangan negara dan kemitraan strategis.
Langkah progresif ini bertujuan untuk memangkas birokrasi yang kerap menghambat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah. Dengan mengintegrasikan kekuatan pusat dan daerah, pemerintah optimis target penyediaan rumah bagi ribuan kepala keluarga di Sumatra dapat tuntas dalam waktu dekat. Strategi ini juga menjadi cerminan dari komitmen negara dalam memberikan perlindungan maksimal bagi warga negara yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam.
Optimalisasi APBN dan Skema Gotong Royong Nasional
Pemerintah menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai motor utama dalam pendanaan proyek Huntap ini. Namun, Tito Karnavian menegaskan bahwa keterbatasan anggaran negara menuntut pemerintah untuk lebih kreatif dalam mencari solusi pembiayaan. Oleh karena itu, skema ‘Gotong Royong’ menjadi pilar kedua yang sangat krusial dalam mempercepat proses pembangunan fisik di lapangan.
- Pemanfaatan APBN: Dana dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti akses jalan, sanitas, dan instalasi listrik di lokasi Huntap.
- Kolaborasi Sektor Swasta: Pemerintah merangkul organisasi non-pemerintah dan sektor privat untuk mengisi celah pendanaan yang belum tercover oleh anggaran publik.
- Kemitraan dengan Yayasan Buddha Tzu Chi: Salah satu mitra utama dalam proyek ini adalah Yayasan Buddha Tzu Chi, yang memiliki rekam jejak panjang dalam pembangunan hunian kemanusiaan di berbagai wilayah Indonesia.
- Sinkronisasi Data Daerah: Kemendagri memastikan pemerintah daerah (Pemda) menyediakan lahan yang bebas konflik (clean and clear) agar pembangunan tidak terhambat masalah hukum.
Analisis: Urgensi Diversifikasi Pendanaan dalam Mitigasi Bencana
Keterlibatan pihak swasta seperti Yayasan Buddha Tzu Chi dalam proyek Huntap Sumatra memberikan dimensi baru dalam tata kelola bencana di Indonesia. Model kolaborasi ini membuktikan bahwa penanganan dampak bencana bukan hanya beban pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kolektif. Secara sosiologis, kehadiran pihak swasta seringkali membawa standar pembangunan yang lebih cepat dengan kualitas bangunan yang sangat baik, yang melengkapi standar teknis dari pemerintah.
Lebih lanjut, Mendagri Tito Karnavian mendorong agar model kerja sama ini menjadi cetak biru (blueprint) bagi daerah lain di Indonesia yang rawan bencana. Diversifikasi pendanaan memastikan bahwa proyek strategis nasional tidak akan berhenti di tengah jalan meskipun terjadi fluktuasi ekonomi pada kas negara. Dengan skema gotong royong, efisiensi waktu dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga warga tidak perlu terlalu lama berada di hunian sementara (Huntara) yang seringkali minim fasilitas.
Pemerintah juga memastikan bahwa setiap unit Huntap yang terbangun akan mengikuti standar ketahanan gempa. Hal ini merupakan bagian dari visi besar pembangunan berkelanjutan, di mana hunian baru tidak hanya sekadar tempat berteduh, tetapi juga zona aman bagi masyarakat di masa depan. Integrasi antara pendanaan APBN yang kuat dan manajemen filantropi yang profesional diharapkan mampu mewujudkan Sumatra yang lebih tangguh terhadap ancaman bencana hidrometeorologi maupun geologi.

