TANGERANG – Pemerintah Kabupaten Berau secara agresif memamerkan kekayaan pariwisata dan sektor ekonomi kreatif dalam ajang bergengsi Apkasi Otonomi Expo (AOE) yang berlangsung di Hall ICE BSD, Tangerang. Kehadiran delegasi dari ‘Bumi Batiwakkal’ ini menjadi sinyal kuat mengenai keseriusan daerah dalam melakukan diversifikasi ekonomi. Melalui partisipasi aktif ini, Berau berupaya melepaskan ketergantungan pada sektor ekstraktif seperti pertambangan dengan menawarkan prospek investasi hijau yang lebih berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan nasional maupun internasional.
Langkah strategis ini mencerminkan visi jangka panjang pemerintah daerah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai lokomotif ekonomi baru. Dalam pameran yang berlangsung pada 27–29 Agustus 2026 tersebut, stan Berau menonjolkan keunikan ekosistem laut dan kekayaan budaya yang tidak dimiliki daerah lain. Penyelenggaraan AOE 2026 menjadi momentum krusial bagi Berau untuk menjaring mitra strategis yang siap membangun infrastruktur penunjang di destinasi wisata unggulan.
Memacu Sektor Pariwisata Menjadi Lokomotif Ekonomi Baru
Pemerintah daerah menyadari bahwa keindahan alam saja tidak cukup untuk menggerakkan roda ekonomi secara maksimal tanpa dukungan investasi yang kuat. Oleh karena itu, dalam expo ini, Berau secara khusus mempresentasikan sejumlah titik destinasi yang siap dikembangkan lebih lanjut. Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah pusat untuk memperkuat destinasi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa depan.
- Kepulauan Derawan dan Maratua: Menawarkan potensi wisata bahari kelas dunia dengan fokus pada pengembangan resor ramah lingkungan dan fasilitas diving premium.
- Danau Labuan Cermin: Mengedepankan fenomena alam unik dua rasa yang memerlukan pengelolaan fasilitas publik yang modern namun tetap menjaga kelestarian alam.
- Hutan Lindung Wehea: Menarik minat investor di bidang ekowisata dan riset lingkungan global.
- Wisata Sejarah Kesultanan: Menjual paket wisata budaya melalui pelestarian Keraton Sambaliung dan Gunung Tabur.
Transformasi Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Produk Lokal
Selain sektor wisata, ekonomi kreatif (ekraf) menjadi sorotan utama dalam paviliun Berau. Berbagai produk olahan pangan dan kerajinan tangan hasil karya UMKM lokal dipamerkan sebagai bagian dari rantai pasok industri pariwisata. Keterlibatan sektor ekraf ini menunjukkan adanya ekosistem yang mulai terbentuk antara industri besar dan pelaku usaha kecil di tingkat tapak.
Produk seperti Batik Berau dengan motif khas biota laut serta olahan hasil laut menjadi daya tarik bagi pengunjung dan calon distributor. Pemerintah daerah mendorong adanya kesepakatan dagang (business matching) agar produk lokal Berau bisa menembus pasar ritel nasional. Melalui situs resmi Apkasi, kolaborasi antar daerah diharapkan mampu memperluas jejaring distribusi ini secara masif.
Analisis: Berau Sebagai Hub Pariwisata Masa Depan Kalimantan
Melihat tren pembangunan ke depan, posisi Berau kian strategis pasca-penetapan Kalimantan Timur sebagai lokasi IKN. Berau berpotensi menjadi ‘beranda depan’ pariwisata bagi para tamu negara maupun penduduk IKN nantinya. Namun, analisis kritis menunjukkan bahwa tantangan terbesar Berau saat ini adalah aksesibilitas dan biaya logistik penerbangan yang masih tinggi. Melalui Apkasi Expo, pemerintah daerah diharapkan tidak hanya menjual keindahan, tetapi juga melobi maskapai dan investor transportasi untuk membuka rute-rute baru yang lebih ekonomis.
Pencapaian ini melengkapi upaya branding yang telah dimulai pada tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana diberitakan dalam artikel terdahulu mengenai pengembangan infrastruktur bandara di Maratua, konsistensi promosi di level nasional seperti AOE 2026 akan memastikan bahwa Berau tetap berada dalam radar utama destinasi prioritas di Indonesia. Keberhasilan dalam ajang ini akan diukur dari seberapa banyak komitmen investasi yang masuk dan sejauh mana produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

