Komitmen Merawat Persatuan di Tengah Keberagaman
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Nahdlatul Ulama (NU) atas kontribusi berkelanjutan organisasi tersebut dalam menjaga pondasi perdamaian dan stabilitas nasional. Dalam berbagai kesempatan formal maupun informal, Presiden menekankan bahwa keberadaan NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia menjadi jangkar yang sangat kuat bagi persatuan bangsa Indonesia yang majemuk.
Prabowo Subianto menilai bahwa NU secara konsisten menunjukkan wajah Islam yang moderat, toleran, dan sejuk. Hal ini sangat krusial dalam meredam potensi konflik horisontal di tengah masyarakat. Menurutnya, stabilitas yang dinikmati bangsa hari ini tidak terlepas dari peran aktif para ulama dan warga Nahdliyin yang selalu mengedepankan dialog dalam penyelesaian masalah bangsa. Selanjutnya, Presiden menegaskan bahwa pemerintah sangat membutuhkan mitra strategis seperti NU untuk memastikan program-program pembangunan dapat berjalan tanpa kendala keamanan yang berarti.
Berikut adalah beberapa poin penting yang menjadi sorotan Presiden terkait peran Nahdlatul Ulama dalam menjaga kedaulatan bangsa:
- Konsistensi dalam mengawal ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI secara tegak lurus.
- Peran aktif dalam moderasi beragama yang mencegah tumbuhnya bibit radikalisme di akar rumput.
- Kontribusi sosial melalui jaringan pendidikan dan pesantren yang mencetak generasi nasionalis.
- Kemampuan menggerakkan ekonomi umat yang mendukung stabilitas finansial nasional secara makro.
Sinergi Pemerintah dan Ulama untuk Indonesia Maju
Langkah Presiden Prabowo ini mencerminkan visi kepemimpinannya yang ingin merangkul seluruh elemen bangsa, terutama kelompok religius, untuk memperkuat ketahanan nasional. Beliau menyadari bahwa tantangan global yang semakin kompleks membutuhkan soliditas internal yang luar biasa. Oleh karena itu, Prabowo berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi yang intensif dengan jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) guna menyelaraskan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat bawah.
Selain membahas aspek perdamaian, Presiden juga menyinggung pentingnya kolaborasi dalam sektor pemberdayaan ekonomi. Prabowo menginginkan NU menjadi motor penggerak transformasi ekonomi digital bagi kaum santri. Dengan demikian, NU tidak hanya menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga menjadi pilar kemandirian ekonomi bangsa di masa depan. Upaya ini sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Hubungan harmonis antara pemerintah dan NU sebenarnya telah memiliki akar sejarah yang panjang. Anda dapat mempelajari lebih lanjut mengenai sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama yang selalu beriringan dengan kepentingan negara sejak masa kemerdekaan. Di sisi lain, pembaca juga dapat meninjau kembali analisis kebijakan luar negeri Prabowo yang juga menekankan stabilitas kawasan sebagai prioritas utama.
Analisis: Urgensi Stabilitas Nasional dalam Peta Geopolitik
Secara kritis, apresiasi yang disampaikan Presiden Prabowo bukan sekadar basa-basi politik semata. Secara geopolitik, Indonesia memerlukan kondisi internal yang stabil agar dapat memainkan peran lebih besar di panggung internasional. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, stabilitas domestik yang dipandu oleh organisasi seperti NU memberikan legitimasi moral bagi Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik global. Para analis berpendapat bahwa kemitraan strategis antara ‘Ulama dan Umara’ (pemimpin pemerintah) ini merupakan kunci keberhasilan Indonesia melewati masa transisi kepemimpinan dengan damai.
Dalam jangka panjang, penguatan hubungan ini akan berdampak pada meningkatnya kepercayaan investor asing ke Indonesia. Investor cenderung memilih negara yang memiliki kerukunan sosial yang terjaga. Dengan demikian, dukungan NU terhadap stabilitas nasional secara tidak langsung mempercepat akselerasi pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia yang sedang digenjot oleh kabinet Prabowo.



