MBABANE – Roberto Mosquera menghabiskan lebih dari empat dekade membangun hidup di Amerika Serikat sebelum sebuah kesalahan birokrasi yang fatal melemparkannya ke dalam sel gelap di Eswatini. Pria asal Kuba ini menjadi simbol kegagalan sistemik Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang mengirimnya ke sebuah negara di benua Afrika yang bahkan belum pernah ia dengar sebelumnya. Tragedi ini mencuat setelah Mosquera melakukan aksi mogok makan sebagai upaya terakhir untuk menarik perhatian dunia internasional terhadap nasibnya yang terombang-ambing tanpa kepastian hukum.
Kisah pilu ini bermula saat petugas ICE menangkap Mosquera tahun lalu. Padahal, Mosquera telah menetap di Amerika Serikat sejak eksodus Mariel boatlift tahun 1980. Meskipun ia pernah menjalani hukuman penjara pada tahun 1996, ia telah menyelesaikan masa hukumannya dan hidup sebagai penduduk tetap selama bertahun-tahun. Namun, kebijakan imigrasi yang kaku dan ambisi mencapai target deportasi justru membuat otoritas AS mengirimnya ke Eswatini, sebuah kerajaan kecil yang berbatasan dengan Afrika Selatan, tanpa dasar hukum atau hubungan kewarganegaraan yang jelas.
Analisis Kegagalan Sistemik Birokrasi Imigrasi Amerika Serikat
Kasus Mosquera mengungkap celah berbahaya dalam prosedur deportasi Amerika Serikat. Bagaimana mungkin seorang warga negara Kuba, yang secara administratif sulit dipulangkan ke negara asalnya karena hubungan diplomatik yang kompleks, justru berakhir di penjara Afrika? Para ahli hukum berpendapat bahwa ini merupakan bentuk pengabaian hak asasi manusia yang sangat kasar. ICE memaksakan deportasi ke negara ‘pihak ketiga’ hanya agar individu tersebut keluar dari wilayah AS, tanpa mempedulikan kelangsungan hidup subjek tersebut di lokasi baru.
- Identitas yang Dipertanyakan: Otoritas Eswatini menerima Mosquera berdasarkan dokumen yang diduga tidak akurat atau dipaksakan oleh pihak Amerika Serikat.
- Kurangnya Transparansi: Proses pemindahan dilakukan secara diam-diam tanpa memberikan kesempatan bagi kuasa hukum Mosquera untuk melakukan intervensi atau banding.
- Dampak Psikologis: Berada di lingkungan yang asing dengan kendala bahasa yang masif membuat kondisi mental Mosquera memburuk secara signifikan selama di penjara.
Melalui wawancara eksklusif dengan Nicholas Casey dari The New York Times Magazine yang dilakukan melalui telepon seluler yang ia dapatkan secara sembunyi-sembunyi, Mosquera menceritakan kengerian hidup di balik jeruji besi Mbabane. Ia mengaku tidak memiliki koneksi, keluarga, maupun sejarah dengan negara tersebut. Pemerintah Eswatini sendiri tampak bingung menangani tahanan ‘kiriman’ Amerika Serikat ini, namun tetap menahannya tanpa dakwaan yang sah.
Dampak Jangka Panjang dan Perlunya Reformasi Kebijakan Deportasi
Kejadian ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintahan Joe Biden untuk mengevaluasi kinerja ICE secara menyeluruh. Kasus ‘salah kirim’ manusia ini bukan sekadar kesalahan administratif, melainkan pelanggaran serius terhadap konvensi internasional mengenai pengungsi dan orang tanpa kewarganegaraan. Publik kini menuntut akuntabilitas dari para pejabat yang menandatangani perintah deportasi Mosquera. Jika sistem ini tidak segera diperbaiki, ribuan imigran lainnya dengan status serupa berisiko mengalami nasib yang sama, terbuang ke belahan dunia yang tidak mereka kenal.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari laporan kami sebelumnya mengenai prosedur deportasi kontroversial di perbatasan AS yang terus menuai kritik dari aktivis kemanusiaan. Penanganan kasus Mosquera akan menjadi tolok ukur apakah Amerika Serikat masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan atau sekadar mengedepankan angka statistik dalam penegakan hukum imigrasi.

