JAKARTA – Ketua terpilih Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2029, Fauzan Zidni, menegaskan komitmen besar untuk membawa sinema Tanah Air melampaui batas domestik. Visi kepemimpinannya menitikberatkan pada akselerasi kualitas produksi serta penguatan diplomasi budaya di kancah internasional. Langkah ini muncul sebagai respons atas meningkatnya minat audiens global terhadap narasi lokal yang otentik dan kompetitif.
Fauzan meyakini bahwa industri film Indonesia saat ini memiliki modal sosial dan kreatif yang cukup untuk bersaing di panggung bergengsi seperti Academy Awards atau Oscar. Namun, ia menyadari bahwa bakat besar saja tidak mencukupi tanpa dukungan infrastruktur industri yang solid. Oleh karena itu, BPI di bawah komandonya akan fokus membenahi ekosistem dari hulu ke hilir guna menciptakan iklim kerja yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Transformasi Industri Perfilman Menuju Panggung Global
Perluasan pasar film Indonesia menjadi agenda prioritas yang akan Fauzan eksekusi dalam tiga tahun ke depan. Ia berencana meningkatkan partisipasi aktif produser lokal dalam pasar film internasional (film market) di festival-festival kelas A seperti Cannes, Berlin, dan Busan. BPI akan berperan sebagai jembatan bagi para sineas untuk mendapatkan akses pendanaan internasional serta kesepakatan ko-produksi lintas negara.
Strategi ini bukan sekadar mengejar angka penonton, melainkan membangun nilai tawar industri kreatif Indonesia di mata investor global. Melalui kolaborasi dengan kementerian terkait, BPI berupaya menciptakan insentif yang mampu menarik rumah produksi asing untuk bekerja sama dengan talenta lokal. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah dalam memperkuat ekonomi kreatif sebagai pilar baru pertumbuhan ekonomi nasional.
- Penyusunan basis data talenta dan rumah produksi yang terstandarisasi internasional.
- Penguatan regulasi perlindungan hak kekayaan intelektual bagi sineas lokal.
- Peningkatan program pelatihan teknis untuk meningkatkan standar kualitas teknis film (CGI, tata suara, dan sinematografi).
- Advokasi kebijakan pajak dan insentif lokasi syuting untuk produksi berskala besar.
Misi Ambisius Menembus Nominasi Oscar
Terkait target meraih Piala Oscar, Fauzan Zidni menekankan pentingnya kurasi yang ketat dan promosi yang masif di Amerika Serikat. Indonesia membutuhkan strategi lobi dan kampanye yang terencana dengan baik untuk menarik perhatian para anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). BPI berkomitmen membentuk komite seleksi yang independen dan kompeten untuk memilih film yang memiliki relevansi universal tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya.
Analisis mendalam terhadap tren film dunia menunjukkan bahwa cerita yang menyentuh sisi humanitas mendalam seringkali mendapatkan apresiasi lebih di ajang internasional. Fauzan mengajak para pembuat film untuk tidak ragu mengeksplorasi isu-isu sosial yang kompleks namun dikemas dengan estetika visual yang tinggi. Keberhasilan film-film dari negara Asia lain seperti Korea Selatan menjadi pemacu semangat bagi BPI untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu mencetak sejarah serupa di masa depan.
Pihaknya juga akan mempererat hubungan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif guna memastikan dukungan pendanaan kampanye film yang terpilih mewakili Indonesia. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, asosiasi profesi, dan pelaku industri, mimpi melihat bendera Merah Putih berkibar di panggung Oscar bukan lagi hal yang mustahil. Transformasi ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi generasi sineas masa depan untuk terus berkarya di level tertinggi.

