WASHINGTON DC – Gagasan terbaru Donald Trump mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah memicu gelombang skeptisisme yang mendalam di kalangan diplomat dan pakar regional. Dalam rangkaian pembicaraan damai, Trump berulang kali melontarkan usulan agar Suriah mengambil peran aktif dalam menundukkan kekuatan Hizbullah di Lebanon. Langkah ini dianggap banyak pihak sebagai strategi yang mengabaikan realitas sejarah dan kompleksitas aliansi militer di kawasan tersebut.
Para analis menilai bahwa usulan ini sangat kontradiktif mengingat hubungan erat antara rezim Bashar al-Assad di Suriah dengan Hizbullah. Selama lebih dari satu dekade perang saudara di Suriah, kelompok pejuang Lebanon tersebut menjadi pilar utama yang menjaga keberlangsungan kekuasaan Assad. Meminta Suriah untuk menghancurkan sekutu terdekatnya merupakan sebuah anomali diplomatik yang sulit diterima akal sehat politik internasional.
Memori Kelam Pendudukan Suriah di Lebanon
Usulan Trump tersebut membangkitkan kembali memori pahit bagi rakyat Lebanon mengenai masa-masa pendudukan Suriah yang berlangsung selama hampir tiga dekade. Berikut adalah beberapa poin krusial mengapa pelibatan Suriah di Lebanon sangat sensitif:
- Trauma Sejarah: Suriah pernah menduduki Lebanon dari tahun 1976 hingga 2005, yang berakhir setelah pembunuhan Rafik Hariri memicu Revolusi Cedar.
- Kedaulatan Lebanon: Mengizinkan Suriah campur tangan dalam urusan Hizbullah berarti membuka pintu bagi Damaskus untuk kembali mendominasi politik domestik Lebanon.
- Ketidakpercayaan Regional: Negara-negara tetangga mengkhawatirkan bangkitnya kembali hegemoni Suriah yang didukung oleh kekuatan asing tanpa pengawasan internasional yang ketat.
Dibandingkan dengan kebijakan pemerintahan sebelumnya yang cenderung mengisolasi Damaskus, pendekatan Trump menunjukkan pergeseran transaksional yang radikal. Trump seolah-olah menawarkan rehabilitasi politik bagi Assad di kancah internasional asalkan ia bersedia memutus hubungan dengan Iran dan proksinya, termasuk Hizbullah.
Kontradiksi Aliansi Iran, Suriah, dan Hizbullah
Banyak pengamat dari lembaga riset internasional seperti Al Jazeera menyoroti bahwa Iran merupakan penyokong dana terbesar baik bagi Suriah maupun Hizbullah. Strategi Trump yang mengharapkan Suriah berpaling dari Iran demi kepentingan Amerika Serikat dinilai sebagai perjudian tingkat tinggi yang minim peluang keberhasilan. Selama ini, poros Teheran-Damaskus-Beirut telah membentuk jaringan logistik dan militer yang sangat solid.
Selain itu, kekuatan militer Suriah saat ini masih sangat bergantung pada bantuan teknis dan tempur dari kelompok Hizbullah. Mengharapkan militer Assad yang sedang kelelahan akibat perang saudara untuk menyerang kelompok yang justru membantunya memenangkan perang adalah sebuah logika yang sulit diimplementasikan di lapangan. Para pejabat di Timur Tengah justru khawatir usulan ini hanya akan memberikan legitimasi bagi Suriah untuk meningkatkan represi di wilayah perbatasan.
Dampak Terhadap Stabilitas Keamanan Kawasan
Jika usulan ini terus dipaksakan, risiko eskalasi kekerasan di Lebanon justru akan semakin meningkat. Lebanon saat ini sedang berada dalam krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya, dan intervensi eksternal dalam bentuk apapun terhadap Hizbullah dapat memicu perang saudara baru. Komunitas internasional mendesak agar solusi yang diambil lebih mengedepankan penguatan institusi negara Lebanon daripada memberikan mandat kepada kekuatan luar.
Pergeseran diplomasi ini juga menunjukkan bagaimana kebijakan luar negeri AS di bawah pengaruh Trump cenderung bersifat sporadis dan mengabaikan saran dari para ahli Timur Tengah di Departemen Luar Negeri. Analisis ini menjadi pengingat bahwa perdamaian di Timur Tengah memerlukan pemahaman mendalam tentang sejarah, bukan sekadar kesepakatan transaksional di atas kertas.

