SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya mentransformasi kawasan candi-candi besar seperti Borobudur, Prambanan, Mendut, dan Pawon menjadi pusat spiritualitas yang mendunia. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa penguatan fungsi keagamaan di situs-situs bersejarah tersebut bukan sekadar urusan ritual ibadah, melainkan sebuah strategi jitu untuk memperkuat daya tarik wisata religi di tingkat global. Langkah ini diharapkan mampu membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui kunjungan peziarah mancanegara.
Menurut Taj Yasin, keberadaan candi-candi ini memiliki nilai sakral yang sangat tinggi bagi umat Hindu dan Buddha di seluruh dunia. Selama ini, narasi yang berkembang lebih banyak menonjolkan aspek arsitektur dan sejarah arkeologi, namun sering kali melupakan esensi spiritualnya. Padahal, dengan memberikan ruang yang lebih luas bagi kegiatan peribadatan yang teratur dan khidmat, aura spiritual kawasan tersebut akan semakin terpancar. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam menetapkan Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha dunia.
Strategi Integrasi Fungsi Keagamaan dan Destinasi Pariwisata
Optimalisasi potensi wisata religi memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, tokoh agama, dan pengelola kawasan. Taj Yasin menyebutkan bahwa ketika sebuah situs dipergunakan sesuai dengan khitahnya sebagai tempat ibadah, maka daya tarik emosional bagi pengunjung akan meningkat tajam. Para wisatawan tidak hanya datang untuk sekadar berfoto, tetapi juga merasakan pengalaman batiniah yang mendalam. Kebijakan ini juga merujuk pada nota kesepahaman antara kementerian terkait untuk memfasilitasi penggunaan candi demi kepentingan keagamaan.
Berikut adalah beberapa poin penting dalam penguatan fungsi keagamaan candi di Jawa Tengah:
- Memfasilitasi upacara besar keagamaan seperti Waisak di Borobudur dan Abhiseka di Prambanan secara lebih terstruktur.
- Menyediakan fasilitas pendukung yang representatif bagi para biksu dan umat yang ingin melakukan meditasi atau ritual keagamaan.
- Menjalin kerja sama dengan komunitas keagamaan internasional untuk memasukkan candi-candi di Jawa Tengah ke dalam paket ziarah dunia.
- Mengintegrasikan narasi keagamaan ke dalam materi pemanduan wisata agar informasi yang diterima pengunjung lebih komprehensif.
- Menjaga keseimbangan antara akses publik untuk wisata umum dan kekhusyukan area untuk peribadatan.
Dampak Ekonomi dan Tantangan Pelestarian ke Depan
Meningkatnya arus kunjungan wisatawan religi diprediksi akan menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di sekitar kawasan candi. Sektor perhotelan, UMKM cendera mata, hingga jasa transportasi akan mendapatkan manfaat langsung dari lamanya durasi tinggal (length of stay) para peziarah. Berbeda dengan turis biasa, peziarah religi cenderung menghabiskan waktu lebih lama untuk melakukan ritual, yang artinya mereka akan mengonsumsi lebih banyak layanan lokal di sekitar lokasi.
Namun, Taj Yasin juga memberikan catatan kritis mengenai pentingnya menjaga kelestarian struktur bangunan candi. Penggunaan candi sebagai pusat kegiatan keagamaan tetap harus mematuhi protokol konservasi yang ketat. Beban pengunjung harus diatur sedemikian rupa agar tidak merusak batuan candi yang sudah berusia ribuan tahun. Dalam hal ini, keterlibatan Balai Pelestarian Kebudayaan menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa aktivitas manusia tidak mengancam keberlanjutan warisan budaya dunia tersebut.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus melakukan sinkronisasi dengan kebijakan Kementerian Agama dalam menyusun panduan teknis pemanfaatan candi. Hal ini penting agar tidak terjadi benturan kepentingan antara fungsi konservasi, pariwisata, dan religi. Transformasi ini juga menjadi bagian dari upaya pemulihan sektor pariwisata pascapandemi, di mana tren wisata minat khusus seperti wisata religi menunjukkan pertumbuhan yang positif. Dengan visi yang jelas, Jawa Tengah optimis mampu menempatkan Borobudur dan Prambanan setara dengan destinasi religi internasional lainnya seperti Vatikan atau Mekkah.

