TOBELO – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan bergerak cepat menyelamatkan nyawa para pendaki yang terjebak di tengah amukan abu vulkanik Gunung Dukono, Halmahera Utara. Operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis pada Jumat (08/05) tersebut berhasil mengevakuasi 17 pendaki dari lereng gunung yang bergejolak. Namun, keganasan erupsi ini menyisakan duka mendalam setelah petugas menemukan tiga orang pendaki dalam kondisi tidak bernyawa akibat hantaman material vulkanik panas.
Bencana ini menimpa kelompok pendaki yang berjumlah sedikitnya 20 orang saat mereka berada di area rawan bencana. Aktivitas vulkanik yang meningkat secara tiba-tiba membuat para pendaki tidak memiliki cukup waktu untuk turun ke zona aman. Petugas mengonfirmasi bahwa dua di antara korban tewas merupakan warga negara asing asal Singapura, sementara satu korban lainnya adalah warga negara Indonesia.
Kronologi Evakuasi dan Tantangan Medan Vulkanik
Pihak berwenang mengerahkan personel dari Basarnas, TNI, dan Polri segera setelah menerima laporan pendaki yang terjebak. Medan yang terjal serta hujan abu pekat yang menyelimuti wilayah Halmahera Utara mempersulit pergerakan tim evakuasi. Meskipun menghadapi risiko tinggi, para petugas tetap merangsek naik guna menyisir titik-titik yang menjadi lokasi terakhir para pendaki terlihat.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait operasi evakuasi di Gunung Dukono:
- Tim SAR berhasil membawa turun 17 pendaki dalam kondisi selamat, meskipun beberapa di antaranya mengalami luka bakar dan sesak napas.
- Petugas menemukan tiga jenazah korban di dekat kawah dalam posisi yang menyulitkan proses pengangkatan segera.
- Otoritas setempat segera menutup seluruh akses pendakian ke Gunung Dukono hingga batas waktu yang belum ditentukan.
- Pemerintah daerah berkoordinasi dengan kedutaan besar terkait untuk proses repatriasi jenazah warga negara Singapura.
Kejadian ini menjadi pengingat keras mengenai bahaya laten gunung api aktif di Indonesia. Gunung Dukono sendiri merupakan salah satu gunung api paling aktif di Maluku Utara yang seringkali menunjukkan peningkatan aktivitas tanpa didahului gempa vulkanik yang signifikan. Kondisi geologis ini menuntut kewaspadaan ekstra dari para pengelola kawasan wisata alam dan para pendaki.
Analisis dan Panduan Keselamatan Pendakian Gunung Api Aktif
Sebagai portal berita yang peduli terhadap keselamatan publik, kami memandang perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pendakian di zona aktif. Peristiwa di Dukono menambah daftar panjang kecelakaan pendakian yang seharusnya dapat kita cegah dengan mitigasi yang lebih ketat. Para pendaki wajib memantau informasi terkini melalui portal resmi MAGMA Indonesia sebelum memutuskan untuk melakukan pendakian.
Bagi Anda yang merencanakan pendakian di gunung berstatus waspada atau siaga, berikut adalah langkah keselamatan yang wajib Anda patuhi:
- Selalu mendaftarkan diri di pos pendakian resmi dan meninggalkan identitas serta kontak darurat yang valid.
- Gunakan peralatan standar pendakian termasuk masker respirator untuk melindungi pernapasan dari debu vulkanik yang mengandung silika dan sulfur.
- Patuhi rekomendasi radius aman dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan jangan pernah memaksakan diri mendekati kawah demi konten media sosial.
- Pahami tanda-tanda alam seperti bau belerang yang menyengat atau suara gemuruh dari perut bumi sebagai sinyal untuk segera turun.
Tragedi ini mengingatkan kita pada peristiwa serupa dalam catatan sejarah erupsi mematikan di Maluku Utara, di mana kesiapsiagaan seringkali menjadi pembeda antara hidup dan mati. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk selalu memprioritaskan keselamatan di atas ambisi mencapai puncak, terutama di wilayah dengan aktivitas seismik yang tinggi seperti Halmahera.

